PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sesuai dengan Undang-Undang nomor 36
tahun 2009 tentang Kesehatan bab I pasal 1 ayat (1) “Kesehatan adalah keadaan
sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan
setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis”. Pada bab VI
pasal 71 ayat (1) ”Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara fisik,
mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau
kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses
reproduksi pada laki-laki dan perempuan” dan pada bab X ayat (1) “Pemerintah daerah dan masyarakat bertanggung
jawab melakukan upaya pencegahan, pengendalian, dan
pemberantasan penyakit menular serta akibat yang ditimbulkannya.
World Health Organitation
(WHO) menyatakan pada tahun 2015, diperkirakan ada 9 juta orang meninggal
kerena kanker dan tahun 2030 diperkirankan ada 11,4 juta orang karena kanker
(infopasutri.wordpress.com, 2011).
|
Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, AKI sebesar 228/100.000 Kelahiran Hidup (KH). Pemerintah memerlukan upaya yang
sinergis dan terpadu untuk mempercepat penurunan AKI yang merupakan tujuan kelima target Millenium Development Goals (MDGs) yaitu Meningkatkan
Kesehatan Ibu pada
tahun 2015 dengan
target AKI sebesar
102/100.000 kelahiran hidup. Tentunya hal ini merupakan tantangan yang cukup
berat bagi Pemerintah Indonesia. AKI di Indonesia masih tinggi bila dibandingkan dengan AKI di negara Asia
lainnya. Penurunan AKI hanya mencapai 52% dari keadaan tahun 1990 dari
target 75%. Berdasarkan
kecenderungan angka-angka tersebut, akan sulit dicapai target MDGs tahun 2015 (Depkes RI, 2007).
Kepala Dinas Kesehatan
Aceh M. Yani (2013) Dinas
Kesehatan Aceh bertekad untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak di Aceh,
dengan koordinasi terus menerus dengan kabupaten dan semua pihak yang terkait. Angka kematian ibu dan anak masih
tinggi di Aceh. Angka kematian ibu
dan anak mencapai 153 /100.000 kelahiran
hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) di
Aceh menurun hingga 26 % pada tahun 2010. Diprediksikan, tahun ini AKI di Aceh akan terus menurun
karena peran tenaga medis termasuk bidan sudah meningkat (Gampong/Desa Geuceu Kayee Jato, ATJEHPOST.com, Jumat 11 Januari 2013).
Kurangnya pengetahuan masyarakat, terutama kaum
Hawa, mengenai kanker serviks dan keengganan untuk melakukan deteksi dini
dengan pap smear, menyebabkan sebagian besar (>70%) pasien berobat kedokter
dalam kondisi yang sudah parah dan sulit di sembuhkan. Hanya sekitar 2% dari wanita di Indonesia yang memiliki pengetahuan tentang kanker
serviks (Aulia, 2012).
Usia wanita usia subur (WUS)
sangat berpengaruh pada insidensi terkena kanker serviks, insidensi yang
sering terjadi terdapat yaitu pada usia
antara 30-60 tahun, terbanyak
antara 45-50 tahun. Wanita berusia <35 tahun menunjukan kanker serviks yang
invasif dan Karsinoma In Situ (KIS). Setelah melewati usia >30 tahun harus
menyediakan sarana penanganan untuk berhenti sampai di usia 60 tahun (Sarwono,2008).
Pengetahuan dan pendidikan wanita usia subur tentang
kanker servik akan membentuk sikap positif terhadap rendahnya deteksi dini
kanker servik. Hal ini juga merupakan faktor dominan dalam pemeriksaan deteksi
dini kanker serviks. Pengetahuan dan pendidikan yang dimiliki wanita usia subur
tersebut akan menimbulkan kepercayaan ibu tentang deteksi dini kanker serviks
(Aziz, 2007).
Wanita dengan tingkat ekonomi rendah mempunyai resiko tinggi untuk menderita daripada perempuan
yang ekonominya menengah atau tinggi hal ini berkaitan dengan gizi, status imunitas dan pelayanan kesehatan (Samadi,
2010).
WHO menganjurkan penggunaan tes
Papanicolauo (Pap Smear) sebagai skrining awal yang efektif untuk mendeteksi
lesi pada serviks atau vagina. Hasil sediaan Pap Smear yang representatif untuk
skrining adalah yang mengandung sel yang mewakili squamocolumnair junction
(WHO, 2008).
Test pap dapat mendeteksi perubahan
awal sel di leher rahim (displasia)
sebelum berubah menjadi kanker. Pap Smear juga dapat mendeteksi sebagian besar kanker serviks pada tahap awal
(Ova, 2010).
Pemerintahan Kota Banda Aceh melalui
Dinas Kesehatan menggelar pemeriksaan dan deteksi kanker rahim (papsmear) gratis
bagi warga Kota Banda Aceh yang terdiri dari 90 desa. Pemeriksaan ini
berlangsung di Rumah Sakit Umum (RSU) Meuraxa (Gampong/Desa Geuceu Kayee Jato, ATJEHPOST.com, Jumat 11
Januari 2013).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik
untuk malakukan penelitian mengenai “Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) Tentang Pap Smear
Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh”.
1.2 Rumusan
Masalah
Dilihat dari latar belakang yang telah di jelaskan di atas, maka yang
menjadi permasalahan adalah Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan
Wanita Usia Subur (WUS) Tentang Pap Smear Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks Di
Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh”
1.3 Tujuan
Penelitian
1.3.1
Tujuan Umum
Untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan Wanita Usia Subur
(WUS) tentang pap smear dalam deteksi dini kanker serviks di Rumah Sakit Umum Meuraxa
Kota Banda Aceh.
1.3.2
Tujuan Khusus
1) Untuk mengetahui hubungan usia dengan tingkat
pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi dini kanker
serviks di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
2) Untuk mengetahui hubungan sosial ekonomi dengan
tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi
dini kanker serviks di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
3) Untuk mengetahui hubungan pendidikan dengan
tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi
dini kanker serviks di Rumah Umum Meuraxa
Kota Banda Aceh.
1.4
Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat bagi peneliti
Diharapkan
penelitian ini dapat menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman dalam
melaksanakan penelitian yang berhubungan dengan faktor yang mempengaruhi
tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi
dini kanker servik.
1.4.2
Manfaat bagi
tempat penelitian
Diharapkan penelitian ini dapat
memberikan informasi yang signifikan baik dalam membantu mengetahui faktor
rendahnya informasi yang didapatkan dari pelayanan maupun penyuluhan kesehatan
tentang pap smear dalam deteksi dini kanker servik.
1.4.3
Manfaat bagi
instusi pendidikan
Diharapkan
penelitian ini dapat menjadi bahan masukan dalam membimbing dan menambah
pengetahuan mahasiswi kebidanan tentang pentingnya pap smear dalam deteksi dini
kanker servik.
1.5 Hipotesis
1.5.1
Ada hubungan
faktor usia terhadap pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear
dalam deteksi dini kanker servik di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
1.5.2
Ada hubungan
faktor sosial ekonomi terhadap pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear
dalam deteksi dini kanker servik di Rumah Sakit Umum Kota Banda Aceh.
1.5.3
Ada hubungan faktor
pendidikan terhadap pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam
deteksi dini kanker servik di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar