JURNAL SOSIAL DAN POLITIK
ABSTRAK
Dewasa ini
pesantren berlomba-lomba memiliki infrastruktur modern, tetapi hanya beberapa
pesantren yang menerapkan life-stlye
modern. Masih banyak pesantren yang melestarikan kultur tradisional dimana
santri di pesantren tersebut dituntut untuk berperilaku sesuai life-style tradisional demi melestarikan
kultur tersebut. studi ini dimaksudkan memahami perilaku kesehatan di
pesantren, yang berfokuskan tentang bagaimana memahami perilaku pemeliharaan
kesehatan santri, memahami perilaku pencarian dan penggunaan sistem pelayanan kesehatan santri,
memahami perilaku kesehatan lingkungan, dan rasionalisasi, tindakan sosial
terhadap perilaku hidup sehat dan bersih santri di pondok pesantren Assalafi Al
Fithrah Surabaya.
Menjawab permasalahan tersebut, peneliti
menggunakan teori perilaku kesehatan Notoatmodjo, yang didalamnya juga terdapat
model perilaku sakit dan model pencarian kesehatan, serta menggunakan teori
tindakan sosial Weber. Studi ini menggunakan metode dan prosedur kualitatif,
dengan pendekatan kualitatif deskriptif menggunakan tipe pemilihan informan
dengan teknik purposive dan
pengumpulan data dengan pengamatan langsung serta melakukan wawancara secara
mendalam.
Dari hasil studi didapatkan, bahwa respon
santri terhadap perilaku kesehatan masih kurang dipandang dari sudut pandang
medis modern, karena pesantren memiliki kultur yang berbeda dengan masyarakat
diluar pesantren terlihat dari pertama, dalam
memelihara kesehatan, santri masih mempertahankan diri dari penyakit dan
menjaga kesehatan masih dengan cara yang sederhana. Kedua, dalam usaha memanfaatkan sistem kesehatan, santri mengacu
pada pengetahuan kesehatan yang santri pahami. Ketiga, perilaku kesehatan lingkungan santri dipengaruhi erat
struktur dan nilai-nilai budaya serta nilai-nilai religi yang ada dipesantren. Keempat, usaha rasionalisasi PHBS,
dengan menyesuaikan dengan nilai-nilai kultural dan religi di pesantren guna
meningkatkan derajat kesehatan santri.
Keyword :Health Behaviour, Santri,
Rasionalisasi
ABSTRACT
Nowadays
pesantren compete to has a modern infrastructure, but it just only a few of
pesantren that applied as life-style modern. There are so many pesantren that
stil used traditional culture which the santri inside must be following the
bahavior of traditional become everlasting. The purpose of this research are to
understood the healthy life at pesantren, that focused about how to understood
the culture of healthy life santri, to understood the action of santri to
looking for healthy facilities, to understood healthy environment, and
rasionalitation, the social action of santri to have a healthy life and clean
at pondok pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.
To answering
that problem, the researcher used the theory of healthy life behavior from
Notoatmodjo, which inside it also include sicked behavior model and looking for
healthy, also used the theory of social action from Weber. This research used
method and procedure of qualitative, with ualitative descriptive approaching
and purposive technique and collecting data with direct observation and indepth
interview.
As a result of
this research, that the responses of santri’s healthy life are not good enough
if we see it from modern medical perspective, because pesantren has a different
culture with the environment at the outside, we can see it from first, from the
maintenance of health, santri still used a konvensional treatment tokeep their
life. Second, the effort to used the medical facilities, santri will used their
knowledge of medicine. Third, the healthy life at the environment of the santri
interrupted by the structure and histories value also religion value at
pesantren. Fourth, the rasionalitation of PHBS, combaining with cultural value
and religion at pesantren to increase the degrees of healthy live of santri.
Keyword :Health Behaviour, Santri, Rationalitation
Pendahuluan
Pondok pesantren berasal
dari kata pe-santri-an yang berarti
tempat tinggal santri atau yang dikenal sebagai murid. Pondok berasal dari kata
funduuq dari bahasa arab yang berarti
penginapan atau asrama . Di dalam pondok pesantren kebanyakan dipimpin oleh
seorang kyai dan dibantu oleh murid-murid yang telah di tunjuk untuk mengelola pondok
pesantren serta mengelola organisasi atau lembaga yang berada dalam pondok
pesantren tersebut. Pondok pesantren merupakan institusi pendidikan tertua yang
ada di Indonesia yang telah menjadi produk budaya Indonesia dan mengadopsi
sistem pendidikan keagamaan yang berkembang sejak awal kedatangan islam di
Nusantara. Pondok pesantren tumbuh dan berkembang melayani berbagai kebutuhan
masyarakat, sebagai warisan budaya umat islam Indonesia. Pesantren merupakan
penguhubung antara masyarakat pelosok pedesaan yang belum pernah tersentuh
pendidikan modern, tatkala masyarakat membutuhkan pendidikan (Billah dalam
Sulaiman, 2010).
Dari klasifikasi menurut
Dhofir, Pesantren dikelompokkan menjadi dua tipe yang didasarkan pada
keterbukaannya terhadap perubahan-perubahan sosial, yaitu pesantren salafi dan pesantren khalafi. Pesantren salafiyah
(tradisional) yaitu pesantren yang masih mempertahankan bentuk aslinya dengan
semata-mata mengajarkan ilmu agama berdasarkan kitab-kitab kuning sebagai
sumber literature yang utama. Sedangkan penyelenggaraan pendidikannya
menggunakan sistem klasikal (Arab:madrasi) sebagai upaya mempermudah pengajaran
dengan menggunakan sistem bandongan
dan sorogan. Pesantren khalafy atau khalafiyah adalah pesantren yang telah memasukan mata pelajaran
umum dalam kurikulum pendidikannya, menggunakan sistem klasikal, dan orientasi
pendidikannnya cenderung mengadopsi sistem pendidikan formal. (Dhofir dalam
Sulaiman, 2010)
Kebanyakan pondok pesantren
di Indonesia memiliki masalah yang begitu klasik yaitu tentang kesehatan santri
dan masalah terhadap penyakit. Masalah kesehatan dan penyakit di pesantren
sangat jarang mendapat perhatian dengan baik dari warga pesantren itu sendiri
maupun masyarakat dan juga pemeintah. Pesantren sendiri merupakan sebuah sub-kultur
dimana pondok pesantren mempunyai kultur tersendiri yang berbeda dengan
masyarakat pada umumnya. Pesantren sebagai Alternatif
Ideal menurut Abdurrahman Wakhid (1978) pesantren sebagai sub-kultur yang
memiliki eksistensi yang berbeda dengan masyarakat luar dan memiliki tata nilai
dan lengkap dengan simbol-simbol bagi masyarakat pesantren itu sendiri.
Salah satu penyebab buruknya
kualitas Kehidupan santri pondok pesantren di Indonesia karena pondok pesantren
memiliki perilaku yang sederhana sesuai dengan tradisi dan sub-kultur yang berkembang sejak awalnya berdirinya pesantren,
ditambah juga dengan fasilitas kebanyakan pondok pesantren yang kurang untuk
menunjang kehidupan sehari-hari termasuk juga fasilitas kesehatannya. Perilaku
santri tidak jauh berbeda mencontoh kyai, ustad dan badal (penganti kyai) yang tidak lepas dari perilaku kesederhanaan
dan kesahajaan karena alasan keterbatasan fasilitas dan sarana dalam pondok
pesantren (Rofiq, 2008). Sangat berhubungan antara keterbatasan fasilitas dan
sarana di dalam pesantren dengan semangat hidup para santri dengan orang-orang
di luar pesantren, yaitu fokus mereka dalam hidup sebagai perjuangan, baik
perjuangan ekonomi maupun perjuangan menyebarkan agama islam dalam suasana yang
tidak mendukung (Castles dalam O’halon, 2006).
Kesederhanaan dan kesahajaan
serta kurangnya fasilitas dan sarana di pondok pesantren menjadi salah satu
faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan santri di pondok pesantren.
Disamping itu terdapat pula faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku
kesehatan santri di Pondok pesantren, antara lain, kurangnya promosi kesehatan.
Menurut The Ottawa Charter (dalam WHO, 2013)
Promosi kesehatan merupakan proses meningkatkan kemampuan orang dalam
mengendalikan dan meningkatkan keadaan sehat, seseorang atau kelompok dan harus
mampu mengidentifikasi dan menyadari aspirasi, serta mampu memenuhi kebutuhan
dan perubahan atau mengendalikan lingkungan. Di dalam promosi kesehatan
berperan penting dalam edukasi kepada santri terhadap hidup sehat, menjaga
dirinya agar tetap sehat, meningkatkan kualitas kesehatan, peka dan tanggap
terhadap datangnya penyakit, mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan
dan perubahan-perubahan yang terjadi.
Dalam beberapa penelitian
yang tentang penyakit menular di pondok pesantren di Jawa Timur. penelitian
Dhini Marga Rahadian, (2008), Higiene Perorangan Santri dan Sanitasi Pondok
pesantren putrid KHA. Wahid Hasyim Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan.
Disimpulkan bahwa kondisi sanitasi pondok pesantren masih kurang baik dan
kebanyakan santri sering menderita sakit flu, pusing, pilek batuk, migrain,
sakit gigi dan sebagainya. penelitian tesis Siti Rahayu (2006). Tentang perbedaan prevalensi Anemi
pada tingkat kesegaran jasmani antara santriwati di pondok pesantren pesisir
dan non-pesisir, ditemukan bahwa pondok pesantren non-pesisir pervalensi
penyakit anemi lebih tinggi dari pada prevalensi pondok pesantren di pesisir,
karena pemenuha gizi pesantren di pesisir lebih baik dari pada pemenuhan gizi
di pondok pesantren non pesisir.
Beberapa tahun yang lalu
juga terjadi kejadian luar biasa yaitu menyebarnya virus flu babi H1N1 di
pondok pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dan pondok pesantren Tebu Ireng
Jombang pada tahun 2009 dan menjadi Kasus Luar Biasa yang ditangani langsungg
oleh pemerintah. Faktor yang menentukan rendahnya kualitas perilaku kesehatan
santri adalah peraturan pondok, fasilitas pondok, dan teman dekat di pondok
(Rofiq dalam Rofiq, 2008).
Perilaku kesehatan merupakan
respon seseorang terhadap stimulus berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem
pelayanan kesehatan, makanan minuman serta lingkungan (Notoatmodjo, 2007),
Perilaku kesehatan terbagi menjadi tiga pola utama, perilaku hidup sehat,
perilaku sakit dan perilaku peran sakit contohnya olah raga teratur, makan menu
seimbang, istirahat cukup, pengendalian stress, usaha serta cara merespon
terhadap sakit, dan penyakit, presepsi terhadap sakit, pengetahuan penyebab
gejala penyakit dan lain lain. (Becker dalam Notoatmodjo, 2007)
Dalam jurnal ini mendeskripsikan
tentang perilaku kesehatan di pondok pesantren Assalafi Al Fithrah di kota
Surabaya. Mulai dari perilaku sehat, perilaku sakit dan perilaku peran sakit,
yang memiliki penjabaran mulai dari aktivitas olahraga, makanan dan minuman,
istirahat dan pemanfaatan waktu luang, pengelolaan stress, gaya hidup sehat, respon terhadap sakit,
respon terhadap penyakit, respon terhadap penyakit, hak orang sakit, kewajiban
orang sakit. Dari nilai kesederhanaan dan nilai-nilai yang lain pesantren
sebagai sub-kultur tersendiri dari masyarakat pada umumnya termasuk juga tentang perilaku kesehatan.
Dan juga mendeskripsikan
tentang rasionalisasi tindakan sosial santri terhadap perilaku hidup bersih dan
sehat mengambil dari teori tindakan sosial Max Weber. Weber mendefinisikan
tindakan sosial sebagai semua perilaku manusia ketika dan sejauh individu
memberikan suatu makna subyektif terhadap perilaku tersebut. Dalam teori
tindakannya, tindakan bermaknsa sosial sejauh, berdasarkan makna subyektifnya
yang diberikan oleh individu atau individu-individu, tindakan itu
mempertimbangkan perilaku orang lain dan karenanya diorentasikan dalam
penampilannya. Perilaku hidup bersih dan
sehat, terkait dengan perilaku subjektivitas individu di sini, dengan teori
tindakan sosial Max Weber melihat dan mendeksripsikan perilaku hidup bersih dan
sehat.
PERILAKU PEMELIHARAAN KESEHATAN , PERILAKU
PENCARIAN, PENGGUNAAN SISTEM ATAU
FASILITAS KESEHATAN DAN PERILAKU KESEHATAN LINGKUNGAN SERTA TINDAKAN SOSIAL
Pengetahuan
tentang perilaku sehat dalam santri di pondok pesantren yang perlu diupayakan
adalah keempat dimensi di atas. perawatan dan menjaga kesehatan, pendidikan
kesehatan, pertolongan dan tindakan ketika terkena penyakit, serta upaya
peningkatan kesehatan lingkungan baik secara individu dan sosial.
Batasan-batasan perilaku kesehatan dalam studi ini menggunakan rumusan yang
digunakan (Notoatmodjo : 2003) mengambil dari teori perilaku Skiner, perilaku
pemeliharaan kesehatan , perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau
fasilitas kesehatan dan perilaku kesehatan lingkungan.
Pada pembahasan ini
juga menggunakan teori tindakan sosial,
Max Weber membagi menjadi 4 kelompok, yaitu. Tindakan rasional instrumental (Zweck Rational), Tindakan Rasional Nilai
(Wert Rational), tindakan afektual
dan tindakan tradisional. Di sini teori tindakan sosial Max Weber, memandang
perilaku kesehatan dari sudut pandang sosiologis. Bagi Weber, sosiologi adalah
suatu ilmu yang berusaha memahami tindakan-tindakan sosial dengan menguraikannya
dengan menerangkan sebab-sebab tindakan tersebut. Inti dari sosiologi Weber
bukanlah bentuk-bentuk substansial dari kehidupan masyarakat maupun nilai yang
obyektif dari tindakan, melainkan semata-mata arti arti yang nyata dari
tindakan perseorangan yang timbul dari alasan-alasan subyektif. Adanya
kemungkinan untuk memahami tindakan orang seorang inilah yang membedakan
sosiologi dari ilmu pengetahuan alam, yang menerangkan peristiwa-peristiwa
tetapi tidak pernah dapat memahami perbuatan obyek-obyek. Pokok penyelidikan
Weber adalah tindakan orang seorang dan alasan-alasannya yang bersifat
subyektif dan itulah yang disebutnya dengan Verstehende
Sociologie (Siahaan, 1986).
Perilaku
Pemeliharaan Kesehatan
Health maintenance atau yang dikenal sebagai
perilaku pemeliharaan kesehatan santri di PAF Surabaya. dari hasil penelitian
diketahui cara santri dalam menjaga kesehatan dan mempertahankan diri penyakit
dengan cara yang sederhana dan tidak seperti masyarakat di luar pondok
pesantren. Santri dalam mempertahankan kesehatannya yaitu dengan beristirahat
dan memanfaatkan waktu yang untuk digunakan melanjutkan aktivitas di pondok
pesantren yang sangat padat.
Kegiatan di pondok
pesantren dimulai dari sebelum terbitnya fajar hingga tenggah malam, sehingga santri dituntut untuk
mengatur waktu sebaik-baiknya. Ketika keadaan normal seseorang yang hidup di
luar area pondok pesantren, jika mempertahankan kesehatannya yaitu dengan
mengkonsumsi sumplemen manakan, makan makanan yang bergizi empat sehat lima
sempurna ditambah dengan gerak yakni olah raga. Santri di PAF tidak bisa
begitu, makanan yang disediakan pondok adalah makanan yang sederhana dengan
tahu dan tempe, sayuran dan santri tidak bisa memilih menu makanan setiap
harinya. Akan tetapi santri dibebaskan untuk membeli makanan di kantin, di
koperasi dan di warung sekitar pondok, namun juga pengetahuan santri tantang
pengetahuan makanan yang bergizi dan cara menjaga perilaku hidup sehat itu
masih kurang
Perilaku
Pencarian dan Penggunaan Sistem atau Fasilitas Kesehatan
Seeking Health Behavior atau yang dikenal sebagai
perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, disebut juga
perilaku mencari pengobatan. Di PAF sendiri santri ketika merasa sakit dan
terkena penyakit berusaha mengobati dirinya sendiri, jika dirasa penyakitnya itu ringan mungkin
karena kelelahan atau kondisi tubuh menurun karena kurang istirahat santri
melakukan pengobatan hanya dengan tidur di kamar. Adapula yang ketika merasa
sakit santri tersebut membeli obat sendiri atau meminta tolong temannya untuk
membeli di koperasi pondok atau apotik. Ada pula ketika merasakan sakit santri
mencari pengobatan melalui sistem yang ada di PAF, jika dirasa sakitnya itu
ringan santri hanya dibawa ke ruang isolasi untuk beristirahat, jika tidak ada
masih sakit santri dibawa ke poskestren PAS untuk pemeriksaan dan pengobatan
yang dilakukan oleh dokter yang sedang bertugas.
Tingkat
pengetahuan santri tentang pelayanan kesehatan di PAF juga bepengaruh terdapat
perilaku santri dalam mencari pengobatan, ada santri yang ketika merasa sakit
tidak ke poskestren, akan tetapi menghubungi orang tuanya untuk izin pulang dan
beristirahat di rumah atau mendapatkan pengobatan di luar. Ada pula yang merasa
kecewe dengan sistem pelayanan kesehatan di PAF sehingga santri tersebut
mencari pengoatan di luar PAF, seperti di puskesmas, klinik spesialis dan rumah
sakit di sekitar Kota Surabaya.
Perilaku
Kesehatan lingkungan
Perilaku
kesehatan lingkungan ini dipengaruhi oleh hubungan sosio-kultural individu
dengan lingkungannya, seperti yang
dikemukanan oleh Sadli (dalam Soekidjo,
2003) hubungan individu dengan lingkungan sosial saling mempengaruhi
Perilaku
kesehatan individu, sikap dan kebiasaan individu erat denga lingkungan, karena
sejak lahir individu dalam penelitian ini adalah santri tidak lepas dari
kelompok terutama keluarga.
Lingkungan keluarga, kebiasaan tiap-tiap anggota keluarga
mengenai kesehatan mempengaruhi individu dalam berperilaku. Lingkungan keluarga
ini akan juga membuka kemungkinan untuk memengaruhi kelompok-kelompok yang lain
Kelompok terbatas, tradisi dan adat-istiadat dan
kepercayaan masyarakat sehubungan dengan kesehatan. Suatu kelompok, mempunyai
suatu aturan-aturan atau norma-norma sosial tertentu, maka perilaku individu sebagai anggota kelompok berlangsungg
dalam suatu jaringan yang normatif.
Lingkungan umum, merupakan kebijakan pemerintah di
bidang kesehatan, undang-undang kesehatan, program-program kesehatan dan sebagainya.
Perilaku kesehatan lingkungan ini dipengaruhi dari
linkungan yang di sekitar individu, yang pertama kali mempengaruhi adalah
lingkungan keluarga, lingkungan ini yang memperngaruhi individu sejak lahir dan
kelombok lingkungan keluarga membuka kemungkinan untuk menerima pengaruh dari
kelompok lingkungan yang lain dan mempengaruhi anggota kelompok yang lain.
Setiap kelompok mempunyai nilai, aturan dan norma sosil tertentu, maka perilaku
setiap individu anggota kelompok berlangsungg dalam suatu jaringan yang
normatif. Begitu pula dengan perilaku individu (santri) tersebut terhadap
masalah-masalah kesehatan
Perilaku
hidup sehat
Makan Menu Seimbang
Di PAF seperti yang dijelaskan pada pembahasan health maintenance, dalam pemenuhan gizi
santri dirasa masih kurang jika melihat standart makan menu seimbang menurut
Soekidjo (2003).
Sudarman, (2009) menjelaskan tentang makanan dan
identitas budaya terdapat lima klasifikasi. Pertama,
kebutuhan fisiologis komsumsi makanan
bertujuan untuk menjaga keseimbangan dan pekembangan disiologis seseorang,
menjaga keseimbangan gizi empat sehat lima sempurna merupakan usaha untuk
mendukung tujuan makanan dari sisi fisiologis
Perilaku Merokok
Perilaku merokok ini sangat disayangkan jika terjadi di pondok
pesantren karena ustad atau santri senior secara tidak langsung memberikan
contoh kepada santri yang lebih junior untuk berkeinginan merokok. Ada yang
memang sebelum mondok santri itu merokok dan banyak juga yang setelah mondok
terpengaruh lingkungan untuk merokok.
Tidak Mengkonsumsi Minuman
Keras
Dari hasil penelitian baik santri putra serta santri
putri, di PAF tidak ada santri yang ketahuan mengkonsumsi minuman keras.
Menurut ANS memang tujuan masuk ke pondok pesantren adalah untuk membentengi
diri pengaruh negatif pergaulan di masyarakat umum baik pengaruh rokok, minuman
keras, narkoba dan pergaulan bebas.
Istirahat Cukup
Istirahat cukup,
dengan menigkatnya kebutuhan hidup akibat tuntutan untuk sesuai dengan
lingkungan modern, mengharuskan orang untuk bekerja keras dan berlebihan. Hal
ini dapat juga membahayakan kesehatan
Gaya Hidup Positif
Perilaku positif atau gaya hidup lainnya misalnya
penyesuaian diri dengan lingkungan, kebersihan dan kesehatan lingkungan dan
kesehatan diri serta perilaku lainnya.
Kebersihan
lingkungan, di PAF Surabaya, dilakukan oleh pengurus pondok pesantren
yang telah di tunjuk dan pengurus tersebut yan menentukan dan merekrut santri
untuk bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan seluruh area pesantren,
termasuk juga kebersihan dari fasilitas mulai dari kamar mandi, masjid,
poskestren, lapangan, ruang kelas, pendopo dan lain-lain
Perilaku
sakit (Illness Behaviour)
Pembahasan tentang perilaku
sakit ini menggunakan model Mechanics, model mechanic
ini bertujuan untuk melakukan pendekatan sosial untuk mempelajari perilaku
sakit yang terdiri dari 10 variable yang digunakan untuk membahas perilaku
sakit santri di PAF Surabaya
1.
Penyakit dapat dilihat, dirasakan, dapat dikenali, dirasakan
dan tanda-tanda yang menyimpang. Penyakit yang menyerang santri dengan
tanda-tanda sebagai berikut pucat, santri lemas, tempratur tubuh santri panas,
terdapat luka luar, mengekuarkan ingus, batuk, bercak atau benjol pada penyakit
kulit, dan bisa hingga mengeluarkan lendir
2.
Banyaknya gejala-gejala yang dianggap serius (perakiraan
kemungkinan bahayanya). Jika ciri-ciri dari tanda fisik masih berlanjut maka
atau banyak dan parah maka resiko yang ditimbulkan lebih besar. Santri MRH
pernah mengakami gatal hingga setengah tubuh terdapat benjolan dan terasa
gatal, segera MRH mencari pengobatan.
3.
Banyaknya gejala menyebabnya putusnya hubungan keluarga,
pekerjaan dan aktivitas sosial lainnya. Dengan mengalami sakit tersebut
sehingga parah sehingga tidak dapat mengerjakan rutinitas di pesantren, santri
juga ketika sakit parah tidur diruang isolasi dan mendapat pengobatan dari poskestren
4.
Frekuensi dari gejala-gejala yang tampak, presistensinya dan
frekuensi yang timbul. Penyakit yang dirasa ringan akan tetapi intensitasnya
sering perlu diperiksakan lebih lanjut kemungkinan penyakit itu semakin parah.
Menurut dr. E penyakit yang di alami santri adalah penyakit yang ringan ,
disebabkan karena PHBS santri yang kurang.
5.
Nilai ambang dari santri yang terkena, batas toleransi atau
orang menilai tanda-tanda itu menyimpang. Santri memandang bahwa seorang yang
sakit itu santri tidur lama, tidak mengikuti aktivitas pondok itu sudah
dikatakan sakit. dan sudah mendapatkan perhatian dari santri yang lain apalagi
hingga gejala yang diperlihatkan lebih berat maka santri tersebut akan
dicarikan pengobatan. Ketika penelitian ini berlangsung, dalam suatu kesempatan
didapati santri melakukan aksi solidaritas dengan meminta sumbangan kepada
santri lain di setiap kamar dan meminta
sumbangan kepada ustad untuk menyumbang temannya yang sedang dirawat karena
penyakit kanker darah.
6.
Informasi, pegetahuan dan asumsi budaya dan
pengertian-pengertian dari yang menilai, sangat sedikit sekali santri yang
mengerti tentang perilaku hidup bersih dan sehat, dikarenakan juga sumber
informasi yang masuk kedalam pesantren terbatas, dibutuhkan buku bacaan dan
sosialisasi tentang perilaku kesehatan dan kebersihan di PAF terutama pada
santri putra. Pada santri putri sudah ada santri Husada, yang berfungsi sebagai
agen sosialisasi kepada santri lainnya tentang PHBS dan pemeriksaan awal atau
deteksi penyakit untuk mencari pengobatan selanjutnya
7.
Kebutuhan dasar yang menyebabkan perilaku, ketika sakit
santri, mengambil keputusan berobat atau malah mengabaikan pengobatan ketika
sakit, karena adanya kebutuhan dasar
lain seperti santri tidak ingin terlewatkan ritual yang ada di pesantren,
sehingga ketika sakit santri mengabaikan untuk berobat demi menjalankan
kegiatan tersebut.
8.
Adanya kebutuhan lain yang lebih utama dipenuhi dibandingkan
dengan mengabaikan terlebih dahulu gangguan penyakitnya, bagi sebagian orang
gejala penyakit lebih utama untuk mencari pengobatan, akan tetapi sebagian
orang termasuk santri memilih untuk mengabaikan atau menunda mencari pengobatan
seperti santri PAF dari data yang ditemukan, santri MRH pernah menunda untuk
mencari pengakuan bahwa santri sakit
9.
Perbedaan interpretasi yang mungkin terhadap gejala yang
dikenalnya, seseorang yang merasakan sakit akan tetapi sakit tersebut tidak
dihiraukan karena sudah menjadi bagian dari pekerjaan atau kegiatan tersebut.
sesuai dari data yang ada santri di PAF sudah mengangap penyakit gatal-gatal
itu merupakan bagian dari pesantren, ibaratnya jika tidak pernah sakit
gatal-gatal tidak (afdol:Arab) dalam
menempuh pendidikan di pondoknya. Santri menyikapi penyakit gatal-gatal itu
sudah lumrah bahkan seolah-olah sudah menjadi budaya jika seorang santri harus
pernah terkena penyakit gatal-gatal.
10. Tersedianya sumber daya, kedekatan fisik, biaya dan
sebagainya, di PAF sudah tersedia fasilitas koperasi yang menjual obat-obat
rumahan dan Poskestren untuk pemeriksaan dan pengobatan santri, ketika santi
memeriksakan dirinya dan mendapatkan obat cukup membayar dengan biaya Rp
3000,00, nominal yang murah untuk pemeriksaan dan pengobatan, karena sebagian
pembiayaan pengobatan telah di subsidi dari pondok. Jika santri tidak puas bisa
meminta izin ke pondok untuk berobat keluar pesantren jika dirasa penyakitnya
itu parah.
Perilaku
peran sakit (Sick Role Behaviour)
Peranan orang sakit
Peranan orang sakit terdiri dari dua hal, yakni hak
orang sakit dan kewajiban sebagai orang sakit atau pasien. Orang yang
berpenyakit belum tentu mengakibatkan perubahan peranan seseorang dalam
masyarakat. Berbeda dengan orang yang sakit menyebabkan perubahan peran di
dalam masyasakat maupun lingkungannya. Berkaitan dengan peranan, tidak akan
lepas dari yang namanya hak dan kewajiban. Demikian juga peranan orang sakit
akan menyangkut masalah hak dan kewajiban orang sakit tersebut sebagai anggota
masyarakat.
Hak orang sakit
Hak orang sakit
yang pertama adalah bebas dari tanggung jawab sosial yang normal. Artinya orang
yang sakit tidak mempunyai hak untuk mengerjakan pekerjaan sehari-hari yang
biasa santri lakukan. Hal ini boleh di tuntut tapi tidak mutlak. Seperti halnya
ketika santri PAF sakit pada santri putra akan beristirahat di kamar, dan
ketika kepala kamar atau koordinator bagian kesehatan melihat santri tersebut
sedang terbaring lemas dan pucat maka di biarkan untuk beristirahat dan tidak
melakukan kegiatan sehari-hari di pondok pesantren seperti sekolah, mengaji,
musyawarah dan lain sebagainya.
Santri putri
ketika sakit waktu datang bulan itu merupakan saat istirahat yang dilakukan
oleh wantri putri, karena pada waktu haid seorang islam perempuan terbebas dari
kewajiban sholat, dan haram hukumnya untuk melakukan sholat, memegang dan
membaca Al Qur’an, memasuki masjid dan lain sebagainya. di dalam islam pun
memberikan keringanan untuk perempuan yang sedang haid agar tidak melakukan
ibadah.
Kewajiban orang sakit
Orang yang sakit
berkewajiban sembuh dari penyakitnya, memperolhe kesembuhan bukan hannya hak tapi
juga kewajiban bagi orang yang sakit. Mencari pengobatan baik dilakukan sendiri
maupun dengan bantuan orang lain untuk
Kewajiban
berikutnya adalah orang sakit mencari pengakuan, nasihat dan kerja sama dengan
para ahli kesehatan yang ada di dalam masyarakat. Mencari pengakuan ini penting
agar peranan seorang yang sakit dapat digantikan dengan orang lain. Pengakuan
itu bisa dalam bentuk pengakuan secara formal maupun informal, seperti
mendapatkan surat izin untuk tidak masuk kerja atau surat keterangan sakit.
Model
Perilaku Tentang Keyakinan Sehat
Terdapat berbagai model perilaku tentang pilihan
berobat berhubungan dengan keyakinan kesehatan (Health Belive Model) yang dimiliki oleh masyarakat yang
dikembangkan dari Rosenstock (dalam Sudarmann,
2009) menjelaskan pengambilan keputusan seorang tentang pengobatan dirumuskan
menjadi :
1.
Keyakinan kerentanan terhadap penyakit
2.
Keyakinan tentang keseriusan atau keganasan penyakit
3.
Keyakinan tentang efektifitas tindakan ini sehubungan dengan
adanya kemungkinan tindakan alternatif
4.
Keyakinan tentang kemungkinan biaya
Tindakan Rasional Max Weber
Ada 4 teori
tindakan rasional dalam masyarakat yang diinterpretasikan pada perilaku
kesehatan santri sebagai berikut :
Pertama, Tindakan rasional
instrumental yaitu tindakan murni aktor
dalam hal ini seorang santri tidak hanya menilai cara yang baik akan tetapi
juga menentukan nilai dan tujuan. Alat sebagai pencapaian tujuan-tujuan yang dikejar
dan dihitung secara rasional ketika mencari pelayanan kesehatan atau
pengobatan. Tindakan santri tersebut
antara lain membeli obat di toko atau di koperasi yang diharapkan itu
memberikan kesembuhan pada penyakitnya, atau pun pergi ke poskestren atau juga
mencari pelayanan medis lain untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih
profesional.
Seperti yang diungkapkan oleh Max Weber
yang mengatakan bahwa perilaku manusia yang merupakan perilaku sosial harus
mempunyai tujuan tertentu, yang terwujud dengan jelas. Artinya, perilaku itu
harus mempunyai arti bagi pihak-pihak yang terlibat, yang kemudian berorientasi
terhadap perilaku yang sama dengan pihak lain. Dengan kata lain, suatu perilaku
mungkin mempunyai arti tertentu pada perilaku tersebut.
Demikian pula yang diungkapkan oleh Max
Weber yang memahami alasan-alasan mengapa warga masyarakat tersebut bertindak,
kejadian historis (masa lalu) yang memengaruhi karakter santri, dan memahami
tindakan para pelakunya yang hidup di masa kini.
Kedua Tindakan
Rasionalitas nilai ditentukan oleh
kepercayaan yang sadar akan nilai itu sendiri suatu bentuk perilaku
etis, estetis dan keagamaan atau bentuk lainnya, terlepas dari prospek prospek
keberhasilan.
Tindakan rasional
nilai ini sangat erat sekali dengan kehidupan pesantren karena pesantren
sebagai institusi agama memiliki tata nilai keagamaan yan harus diataati santri
atau pun warga pesantren dalam bertindak, yang pada pembahasan sebelumnya di
telah disebutkan tata nilai di pesantren berdasarkan “kebaikan” dan
“kekualatan”. Tindakan ini tidak memikirkan prospek-prospek keberhasilan
seperti halnya tindakan rasional instrumental, justru lebih pada nilai yang di
anut santri di pesantren.
Perilaku rasional nilai ini juga merupakan pengahambat
santri untuk melakukan PHBS, karena kembali pada tata nilai yang berkembang di
pesantren santri secara tidak sadar sudah ada konstrusi di pikiran santri
tentang tata nilai yang berkambang untuk mencapai fadhoilul amal keutamaan dalam beramal dalam menjalankan kebaikan
ini berpijak pada menjalankan hukum-hukum Allah SWT dan sunnah rasulullah SAW,
jika dikaji lebih dalam lagi terdapat alternatif lain dalam santri ber-PHBS
yaitu jika dimungkinkan ada kajian khusus tentang PHBS dilihat dari dalil Al
Qur’an dan Al Hadist ataupun dari ulama-ulama atau wali-wali Allah.
Ketiga,
klasifikasi
Weber dalam tindakan sosial adalah tindakan
afektual, di mana tindakan afektual ini ditentukan oleh keadaan emosional
aktor. Dari pembahasan sebelumnya terdapat tindakan afektual yang dilakukan
santri dalam perilaku kesehatan yaitu pada saat santri mengalami stress
dikarenakan oleh masalah yang bagitu banyaknya, ataupun tekanan perasaan yang
di rasakan santri HW yang kudua orang tuanya sudah meninggal, dan jika santri
merasa tidak krasan tinggal di
pesantren, santri akan menyendiri menjauh dari teman-temannya dan menangis,
luapan perasaan ini tidak dapat dibendung sehingga dengan menangis dapat
mengurangi tekanan yang terjadi, selain dengan tangisan luapan bentuk
penyesalan, merenung berdiam diri dan instropeksi diri akan kesalahan yang
dilakukan santri dalam mengatasi stress. Di PAF pada hari-hari tertentu
terdapat ritual berdzikir bersama pada malam hari dengan mematikan semua lampu
majlis dzikir fida’, di mana jamaah
dan santri berdzikir membaca kalimat tauhid, Laa Ila
Ha illallah hingga mencapai katarsis, upaya mendekatkan diri kepada tuhan
YME, sampai menangis terisak-isak seraca
tidak langsungg juga turut menghilangkian beban mental, dan kepenatan dalam
kehidupan seseoang.
Keempat,
tindakan
tradisional merupakan tindakan yang dilakukan cara-cara berperilaku sang aktor
yang biasa dan lazim, kebiasaan yang ada dalam satu institusi dan telah
dilakukan lama dan telah mapan sebagai kerangka acuan dan diterima begitu saja
tanpa persoalan. Di pesantren Al Fithrah tindakan tradisional yang berhubungan
dengan perilaku kesehatan yaitu bersih diri dengan cara mandi, menyuci pakian,
memotong kuku setiap hari jumat yang sudah terbiasa santri lakukan. Pada
pembahasan sebelumnya diketahui bahwa ust.S menyebutkan bahwa PAF merupakan
pondok pesantren bergaya hidup salaf sejak yang diturunkan dari generasi-kegenerasi
tanpa merubah gaya hidup tersebut mulai dari berpakian di PAF santri putra
wajib berjubah putih ketika melakukan aktifiktas pondok, bagi santri putri ada
seragam khususs ketika melakukan kegiatan pesantren dan tidak boleh menggenakan
pakian ketat dan bercalana. Dari segi makanan setiap hari santri diberikan menu
makanan tahu dan tempe, sebagai lambang tirakat
kesederhanaan dalam mencari keutaman amal perbuatan. Senada dengan itu
pesantren juga merupakan subkultur yang dikemukakan oleh Wakhid (1978), ada dua
karakteristik pesantren sebagai sub-kultur 1. Pesantren tersebut memiliki tata
nilai ini secara turun-temurun dari generasi kegenerasi dan menjaganya, sistem
tersebut melalui sistem riwayat (isnad)
ada standart tersendiri yang mempunyai validitas apakah riwayat itu asli dan
bersambung kepenguasa pembentuk pesantren yaitu para wali songo.
2. asketisme yang digunakan pesantren mengalami krisis di
masyarakat sekitarnya dan akhirnya membentuk unit kultur tersendiri.
Dimasyarakat di luar pesantren terus berkembang menjadi masyarakat yang modern
akan tetapi di dalam pesantren khusussnya di PAF tetap menjaga kemurnian isnad yang diwariskan oleh para
pendahulu. Hal semacam ini hanya terjadi pada pesantren yang memilih gaya hidup
tradisional, pakem yang semacam ini tidak boleh dihilangkan, PAF juga menerima
perubahan dan memasukkan sistem modern pada pendidikan dan fasilitas akan
tetapi tidak meninggalkan kultur yang telah ada secara turun-temurun.
KESIMPULAN
Berdasarkan berbagai
penjelasan yang telah disampaikan sebelumnya, penelitian ini mendapatkan
beberapa temuan yang menjelaskan mengenai perilaku kesehatan santri di pondok
pesantren sebagai berikut :
Pertama, dalam menjaga dan memelihara kesehatan, santri mempertahankan
diri dari penyakit dengan cara yang sederhana, dengan hanya beristirahat ketika
mulai merasakan kondisi tubuhnya menurun, dan mencari pengobatan hanya di
sekitar pondok pesantren dan masih sangat jarang mencari pengobatan pada tenaga
medis yang lebih profesional
Di sisi lain
santri di tuntut untuk mencapai ketaatan beribadat ritual secara ketat, selain
itu santri di tuntut untuk menerima kondisi material yang relatif bersifat
kekurangan, serta memiliki kesadaran kelompok tinggi. Tidak seperti masyarakat di
luar pondok pesantren. Santri dalam mempertahankan kesehatannya yaitu dengan
beristirahat dan memanfaatkan waktu yang untuk digunakan melanjutkan aktivitas
di pondok pesantren yang sangat padat. Pemeliharaan kesehatan ini bergantung
pada perilaku sehari-hari santri, apakah santri tersebut dapat mengatur waktu
dengan tertib. Praktek kehidupan pesantren salah satunya mencerminkan sikap pengekangan,
yaitu memiliki perwujudan disiplin sosial yang ketat.
Kedua, usaha pencarian dan penggunaan fasilitas kesehatan, Di
PAF sendiri santri ketika merasa sakit dan terkena penyakit berusaha mengobati
dirinya sendiri, jika dirasa penyakitnya
itu ringan mungkin karena kelelahan atau kondisi tubuh menurun karena kurang
istirahat santri melakukan pengobatan hanya dengan tidur di kamar. Adapula yang
ketika merasa sakit santri tersebut membeli obat sendiri atau meminta tolong
temannya untuk membeli di koperasi pondok atau apotik. Tingkat pengetahuan
santri di pesantren terhadap perilaku mencari pengobatan ini dipengaruhi oleh
umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lama santri tinggal di pondok
pesantren dan juga dipengaruhi oleh
pengetahuan santri sebelum tinggal di pondok, karena terbatasnya informasi
khusussnya informasi perilaku kesehatan yang masuk di pondok pesantren
Ketiga, dalam kesehatan lingkungan santri sebagai individu
dalam berperilaku kesehatan di pengaruhi erat oleh lingkungan sosialnya baik
lingkungan keluarga, lingkungan kelompok-kelompok yang memiliki norma dan adat
istiadat. Juga dipengaruhi oleh program-program atau lembaga pemerintahan.
Perilaku hidup sehat santri seperti makan, minum, olah raga, perilaku merokok,
pemanfaatan istirahat dan pengelolaan stress dan gaya hidup bersih didasarkan
kepada “kebaikan” atau “kekualatan”.
Keempat, rasionalisasi
perilaku kesehatan bergantung pada pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki
santri. pengetahuan berhubungan erat dengan adopsi perilaku di mana santri
terlebih dahulu harus membangun kesadaran akan pentingnya perilaku hidup sehat
dan bersih di pesantren, karena kesadaran atau niatan yang memicu santri untuk
mengadopsi perilaku hidup sehat dan bersih. Ketertarikan santri terhadap
perilaku hidup sehat ini juga mempengaruhi, kebanyakan santri kurang merespon
sosialisasi yang pernah diberikan oleh layanan kesehatan untuk berperilaku
hidup sehat karena santri tidak merasa tertarik. Perlu adanya pelatihan dan
pembentukan kader-kader kesehatan yang bertujuan untuk mensosialisasikan
perilaku hidup bersih dan sehat melalui peer
group discussion kelompok-kelompok diskusi santri dalam pergaulan
sehari-hari yangg membicarakan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Di
samping itu pengurus dan ustad berperan sebagai aktor sekaligus agen
pengembangan diri dari perilaku hidup bersih dan sehat guna mendukung,
mengawasi dan menjadi contoh santri dalam berperilaku.
Tindakan rasional intrumental santri menyikapi dalam
PHBS di pesantren masih kurang, dikarenakan karena tindakan rasional nilai
melekat kuat di dalam pesantren yang tidak terlepas hari nilai dan etika agama,
akan tetapi tindakan rasional nilai agama ini dapat dimanfaatkan untuk
mensosialisasikan PHBS dengan berdasarkan nilai-nilai di dalam agama. Tindakan
afektual santri diluapkan dengan tangisan, menyendiri, dan merenung tindakan
tersebut disebabkan karena tekanan mental yang dirasakan santri di pesantren.
Tindakan tradisional di pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, sangat terlihat
dari gaya hidup yang diterapkan dan sudah menjadi bagian dari pesantren karena gaya hidup merupakan bagian dari
kultur pesantren salaf yang diwariskan secara turun-termurun dan memiliki
validitas bersambung ke para pendahulu pengagas pesantren yaitu wali songo.
Daftar Pustaka
Al-Zarnuji,
Syekh. 1996. Etika Belajar Bagi Penuntut
Ilmu. Terj. A. Ma’ruf Asrori. Surabaya: Pelita Dunia
Dhofier, Zamakhsyari.
1982. Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan
Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES
Makdisi, George
A. 2005. Cita Humanisme Islam: Panorama
Kebangkitan Intelektual dan Budaya Islam dan Pengaruhnya Terhadap Renesains
Barat. Jakarta : Serambi
Muzaham, Fauzi.
1995. Memperkenalkan Sosiologi Kesehatan.
Jakarta : UI PRESS
Notoatmodjo,
Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipto
Rahardjo,
M.Dawam. 1985. Pergulatan Dunia Pesantren
: Membangun Dari Bawah. Jakarta : P3M
Ritzer, George.
1980. Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda.
Jakarta : CV. Rajawali
.Ritzer, George, dan Douglas, Goodman. 2013. Teori Sosiologi Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan
Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar
Siahaan, Hotman
M. 1986. Pengantar Ke Arah Sejarah Dan Teori Sosiologi.Jakarta : Erlangga
Sudarman,
Sudarmann. 2009. Sosiologi Untuk
Kesehatan. Jakarta : Penerbit Salemba Medika
Sumait, Habib
Zain bin Ibrohim bin Zain. 2004. Attaqriitus
Sadiidah fil Masa’ilil Mafiidah. Surabaya : At Toba’ah Wan Nasyar Wat
Tauziik
Ulumuddin, M.
Ihya. 2004 . Risalah Wudhu, Tuntunan
Memperbaiki Wudhu.Surabaya: Vde Press
Waitzkin, B
Howard., Waterman, Barbara. 1993, Sosiologi
Kesehatan : Mengeksplorasi Penyakit Mencari Keuntungan. Jakarta : Prima
Aksara
Wakhid, Abdurrahman. 1978. Bunga
Rampai Pesantren. Jakarta : CV Dharma Bhakti