PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sesuai dengan Undang-Undang nomor 36
tahun 2009 tentang Kesehatan bab I pasal 1 ayat (1) “Kesehatan adalah keadaan
sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan
setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis”. Pada bab VI
pasal 71 ayat (1) ”Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara fisik,
mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau
kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses
reproduksi pada laki-laki dan perempuan” dan pada bab X ayat (1) “Pemerintah daerah dan masyarakat bertanggung
jawab melakukan upaya pencegahan, pengendalian, dan
pemberantasan penyakit menular serta akibat yang ditimbulkannya.
World Health Organitation
(WHO) menyatakan pada tahun 2015, diperkirakan ada 9 juta orang meninggal
kerena kanker dan tahun 2030 diperkirankan ada 11,4 juta orang karena kanker
(infopasutri.wordpress.com, 2011).
|
Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, AKI sebesar 228/100.000 Kelahiran Hidup (KH). Pemerintah memerlukan upaya yang
sinergis dan terpadu untuk mempercepat penurunan AKI yang merupakan tujuan kelima target Millenium Development Goals (MDGs) yaitu Meningkatkan
Kesehatan Ibu pada
tahun 2015 dengan
target AKI sebesar
102/100.000 kelahiran hidup. Tentunya hal ini merupakan tantangan yang cukup
berat bagi Pemerintah Indonesia. AKI di Indonesia masih tinggi bila dibandingkan dengan AKI di negara Asia
lainnya. Penurunan AKI hanya mencapai 52% dari keadaan tahun 1990 dari
target 75%. Berdasarkan
kecenderungan angka-angka tersebut, akan sulit dicapai target MDGs tahun 2015 (Depkes RI, 2007).
Kepala Dinas Kesehatan
Aceh M. Yani (2013) Dinas
Kesehatan Aceh bertekad untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak di Aceh,
dengan koordinasi terus menerus dengan kabupaten dan semua pihak yang terkait. Angka kematian ibu dan anak masih
tinggi di Aceh. Angka kematian ibu
dan anak mencapai 153 /100.000 kelahiran
hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) di
Aceh menurun hingga 26 % pada tahun 2010. Diprediksikan, tahun ini AKI di Aceh akan terus menurun
karena peran tenaga medis termasuk bidan sudah meningkat (Gampong/Desa Geuceu Kayee Jato, ATJEHPOST.com, Jumat 11 Januari 2013).
Kurangnya pengetahuan masyarakat, terutama kaum
Hawa, mengenai kanker serviks dan keengganan untuk melakukan deteksi dini
dengan pap smear, menyebabkan sebagian besar (>70%) pasien berobat kedokter
dalam kondisi yang sudah parah dan sulit di sembuhkan. Hanya sekitar 2% dari wanita di Indonesia yang memiliki pengetahuan tentang kanker
serviks (Aulia, 2012).
Usia wanita usia subur (WUS)
sangat berpengaruh pada insidensi terkena kanker serviks, insidensi yang
sering terjadi terdapat yaitu pada usia
antara 30-60 tahun, terbanyak
antara 45-50 tahun. Wanita berusia <35 tahun menunjukan kanker serviks yang
invasif dan Karsinoma In Situ (KIS). Setelah melewati usia >30 tahun harus
menyediakan sarana penanganan untuk berhenti sampai di usia 60 tahun (Sarwono,2008).
Pengetahuan dan pendidikan wanita usia subur tentang
kanker servik akan membentuk sikap positif terhadap rendahnya deteksi dini
kanker servik. Hal ini juga merupakan faktor dominan dalam pemeriksaan deteksi
dini kanker serviks. Pengetahuan dan pendidikan yang dimiliki wanita usia subur
tersebut akan menimbulkan kepercayaan ibu tentang deteksi dini kanker serviks
(Aziz, 2007).
Wanita dengan tingkat ekonomi rendah mempunyai resiko tinggi untuk menderita daripada perempuan
yang ekonominya menengah atau tinggi hal ini berkaitan dengan gizi, status imunitas dan pelayanan kesehatan (Samadi,
2010).
WHO menganjurkan penggunaan tes
Papanicolauo (Pap Smear) sebagai skrining awal yang efektif untuk mendeteksi
lesi pada serviks atau vagina. Hasil sediaan Pap Smear yang representatif untuk
skrining adalah yang mengandung sel yang mewakili squamocolumnair junction
(WHO, 2008).
Test pap dapat mendeteksi perubahan
awal sel di leher rahim (displasia)
sebelum berubah menjadi kanker. Pap Smear juga dapat mendeteksi sebagian besar kanker serviks pada tahap awal
(Ova, 2010).
Pemerintahan Kota Banda Aceh melalui
Dinas Kesehatan menggelar pemeriksaan dan deteksi kanker rahim (papsmear) gratis
bagi warga Kota Banda Aceh yang terdiri dari 90 desa. Pemeriksaan ini
berlangsung di Rumah Sakit Umum (RSU) Meuraxa (Gampong/Desa Geuceu Kayee Jato, ATJEHPOST.com, Jumat 11
Januari 2013).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik
untuk malakukan penelitian mengenai “Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) Tentang Pap Smear
Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh”.
1.2 Rumusan
Masalah
Dilihat dari latar belakang yang telah di jelaskan di atas, maka yang
menjadi permasalahan adalah Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan
Wanita Usia Subur (WUS) Tentang Pap Smear Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks Di
Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh”
1.3 Tujuan
Penelitian
1.3.1
Tujuan Umum
Untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan Wanita Usia Subur
(WUS) tentang pap smear dalam deteksi dini kanker serviks di Rumah Sakit Umum Meuraxa
Kota Banda Aceh.
1.3.2
Tujuan Khusus
1) Untuk mengetahui hubungan usia dengan tingkat
pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi dini kanker
serviks di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
2) Untuk mengetahui hubungan sosial ekonomi dengan
tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi
dini kanker serviks di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
3) Untuk mengetahui hubungan pendidikan dengan
tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi
dini kanker serviks di Rumah Umum Meuraxa
Kota Banda Aceh.
1.4
Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat bagi peneliti
Diharapkan
penelitian ini dapat menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman dalam
melaksanakan penelitian yang berhubungan dengan faktor yang mempengaruhi
tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi
dini kanker servik.
1.4.2
Manfaat bagi
tempat penelitian
Diharapkan penelitian ini dapat
memberikan informasi yang signifikan baik dalam membantu mengetahui faktor
rendahnya informasi yang didapatkan dari pelayanan maupun penyuluhan kesehatan
tentang pap smear dalam deteksi dini kanker servik.
1.4.3
Manfaat bagi
instusi pendidikan
Diharapkan
penelitian ini dapat menjadi bahan masukan dalam membimbing dan menambah
pengetahuan mahasiswi kebidanan tentang pentingnya pap smear dalam deteksi dini
kanker servik.
1.5 Hipotesis
1.5.1
Ada hubungan
faktor usia terhadap pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear
dalam deteksi dini kanker servik di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
1.5.2
Ada hubungan
faktor sosial ekonomi terhadap pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear
dalam deteksi dini kanker servik di Rumah Sakit Umum Kota Banda Aceh.
1.5.3
Ada hubungan faktor
pendidikan terhadap pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam
deteksi dini kanker servik di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Pengetahuan
2.1.1
Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini
terjadi orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan
domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Berdasarkan
pengalaman dan penelitian, perilaku
yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang
tidak di dasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2010).
2.1.2
Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2010) pengetahuan
yang tercakup dalam domain kognitif
mempunyai 6 tingkat, yaitu :
1)
Tahu (know)
Tahu dapat diperhatikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya.Termasuk dalam pengetahuan tingkat pengetahuan ini adalah
mengingat
kembali suatu spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari meliputi pengetahuan
terhadap fakta, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori
dan kesimpulan. Oleh karena itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja
untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain
menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, mendatakan dan lain sebagainya.
2)
Memahami
(comprehension)
Memahami
diartikan sebagai kemampuan menjelasakan secara benar tentang objek yang
diketahui dan dapat menginteprestasikan materi tersebut secara benar. Orang
yang telah paham tentang objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan
contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3)
Aplikasi
(application)
Aplikasi
diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi atau kondisi sebenarnya (real).
Aplikasi disini dapat diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, prinsip
dan sebagainya dalam konteks lain.
4)
Analisis
(analysis)
Analisis
adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam
komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan
masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari
penggunaan kata-kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan
sebagainya.
5)
Sintesis
(synthesis)
Sintesis
menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau dengan kata lain
sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada.
Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan dan dapat meringkas, dapat
menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang
telah ada.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi
berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau
objek, penilaian didasarkan pada kriteria tertentu.
2.2 Konsep Kanker Serviks
2.2.1
Pengertian
Kanker serviks
adalah kanker yang terjadi di cervix
uteri, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk
ke arah rahim yang terletak antara rahim dengan liang senggama (Sarwono, 2008).
2.2.2
Etiologi
Penyebab kanker
serviks:
1. Virus HPV (Human papillomaviruses) tipe
resiko tinggi dan rendah. Resiko rendah (tipe 6,11,42,43,44) HPV tipe ini
disebut Non-Onkogenik, jika terinfeksi hingga menimbulkan lesi jinak, misalnya
seperti kutil, jengger ayam dan sebagainya dan resiko tinggi (tipe
16,18,31,33,35,39,45,51,52,56,58,59) HPV tipe resiko tinggi ini disebut
Onkogenik, jika terinfeksi dan tidak di ketahui atau tidak di obati bisa jadi
kanker (Samadi, 2010)
2. Tidak Adanya Tes Pap Smear secara Teratur
Kanker leher rahim lebih sering diderita oleh
wanita yang tidak melakukan Pap Smear secara teratur. Tes ini dapat membantu
para dokter menemukan sel-sel sebelum bersifat kanker (precancerrous cells) dan mendeteksi perubahan sel rahim yang
disebabkan oleh HPV. Dengan demikian, dapat dilakukan perawatan mencegah kanker leher rahim, diantaranya ialah
metode pembekuan (freezing) dan
pembakaran (burning) jaringan yang
terinfeksi.
3. Lemahnya Sistem Imun
Wanita yang terinfeksi HIV (virus yang
menyebabkan penyakit AIDS) atau meminum obat-obatan penekanan sistem imun,
mempunyai resiko kanker serviks lebih tinggi daripada yang lain.
4. Faktor Usia
Kanker leher rahim paling sering menimpa
wanita berumur >40 tahun.
5. Sejarah Seksual
Wanita dengan banyak pasangan seksual memiliki
resiko tinggi menderita kanker leher rahim daripada wanita dengan satu pasangan
tetap. Demikian halnya dengan wanita yang melakukan hubungan seksual dengan
pria yang memiliki banyak pasangan seksual. Kedua golongan tersebut memiliki
resiko tinggi karena sangat rentan terinfeksi HPV.
6. Merokok
Wanita perokok yang terinfeksi HPV mempunyai
resiko kanker leher rahim lebih tinggi ketimbang wanita yang juga terinfeksi
HPV namun tidak merokok.
7. Penggunaan Pil Kontrasepsi dalam Jangka Waktu
Lama
Penggunaan pil kontrasepsi dalam jangka waktu
lama, misalnya 5 tahun atau lebih, dapat meningkatkan resiko kanker leher rahim
bagi wanita yang terinfeksi HPV.
8. Mempunyai banyak Anak
Berdasarkan hasil studi, banyak wanita yang
terinfeksi HPV, melahirkan banyak anak dapat menigkatkan resiko kanker leher
rahim.
9. DES (Dietthylsbestrol)
DES diberikan kepada wanita hamil di Amerika
pada tahun 1940-1971. Obat ini memiliki kemungkinan meningkatkan resiko kanker
leher rahim dan kanker-kanker yang menyerang sistem reproduksi (Aulia, 2012)
2.2.3
Klasifikasi
Tingkat keganasan klinik menurut klasifikasi FIGO, 1978 (Sarwono, 2008) sebagai berikut:
Tabel 2.1.
Tingkat Keganasan Klinik Menurut Figo,
1978
Tingkat
|
Kriteria
|
O
|
Karsinoma In Situ (KIS) atau karsinoma intraepitel: membrana
basalis masih utuh.
|
I
|
Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan ke
korpus uteri.
|
Ia
|
Karsinoma mikro invasif; bila membrana basalis sudah
rusak dan tumor sudah memasuki stroma tak > 3mm, dan sel tumor tidak
terdapat dalampembuluh limfa atau pembuluh darah.
*) Kedalam invasi 3mm sebaiknya diganti dengan tak
>1mm.
|
Ib occ:
|
(I b occult = Ib yang tersembunyi); secara klinis tumor
belum tampak sebagai karsinoma, tetapi pada pemeriksaan histologik ternyata
sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia.
|
Ib:
|
Secara klinis sudah diduga adanya tumor yang histologik
menunjukan invasi kedalam stroma serviks uteri.
|
II
|
Proses keganasan sudah keluar dari serviks dan menjalar
ke ⅔ bagian atas vagina dan ke parametrium, tetapi tidak sampai dinding
panggul.
|
II a
|
Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bbas dari
infiltrat tumor.
|
II b
|
Penyebaran ke parametrium, uni/bilateral tetapi belum
sampai dinding panggul.
|
III
|
Penyebaran telah sampai ke ⅓ bagian distal vagina atau
ke parametrium sampai dinding panggul.
|
IIIa
|
Penyebaran sampai ke ⅓ bagian distal vagina, sedang ke
parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul.
|
IIIb
|
Penyebaran sudah sampai dinding panggul, tidak ditemuka
daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul (frozen pelvic)
atau proses pada tingkat klinik I atau II,tetapi sudah ada gangguan faal
ginjal.
|
IV
|
Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan
melibatkan mukosa rektum atau kandung kemih (dibuktikan secara histologik),
atau telah terjadi metastasis keluar panggul atau ke tempat-tempat yang jauh.
|
IV a
|
Proses keluar dari panggul kecil,atau sudah
menginfiltrasi mukosa rektum dan/kandung kemih.
|
Ivb
|
Telah terjadi penyebaran jauh.
|
Sumber: Sarowono (2008)
2.2.4
Patofisiologis
Karsinoma serviks
timbul dibatas antara epitel yang melapisi ektoserviks
(porsio) dan endoserviks kanalis cervixs yang disebut sebagai squamo-columnar junction (SCJ). Histoligik antara epitel gepeng berlapis (squamous complex) dari porsio dengan epitel kuboid/silindris pendek selapis
bersilia dari endoserviks kanalis cervixs.
Pada wanita muda SCJ ini berada di luar ostium uteri eksternum, sedangkan pada
wanita berumur >35 tahun SCJ berada dalam kanalis serviks. Pada awal perkembangan,
kanker serviks tak memberi tanda-tanda dan keluhan.
Tumor dapat tumbuh seperti:
1)
Eksofitik, mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa
proliferatif yang mengalami infeksi
skunder dan nekrosis.
2)
Endofitik, mulai dari SCJ tumbuh kedalam stroma serviks dan
cenderung untuk mengadakan inflatrasi menjadi ulkus.
3)
Ulseratif, mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan
serviks dengan melbatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas
(Sarwono, 2008).
2.2.5
Gejala Klinis
a. Gejala Dini
-
Sekresi dari vagina
berupa air
-
Spooting pasca koitus
-
Metroragia
-
Polimenorea (Promkes,
2006)
b. Gejala Lanjut
-
Sekresi dari vagina
kehitaman dan berbau
-
Nyeri pelvis, abdomen
dan bokong
-
Anoraksia
-
Berat badan menurun
-
Disuria
-
Perdarahan dari
rektum (Markus,
2009)
2.2.6
Diagnosis
Membuat diagnosis
karsinoma serviks yang klinis sudah agak lanjut tidaklah sulit. Yang menjadi
masalah ialah, bagaimana mendiagnosis dalam tingkat yang sangat awal, misalnya
dalam tingkat pra-invasif, lebih baik bila dapat menangkapnya dalam tingkatan
pra-maligna (displasia/diskariosis serviks) (Sarwono, 2008).
2.2.7
Pencegahan
a.
Vaksinasi
HPV
b.
Pap
Smear
c.
Jangan
merokok dan setia pada pasangan
d.
Jangan
berhubungan seksual di usia muda dan jangan mengkonsumsi obat-obatan terlalu
lama
e.
Jumlah
anak kurang dari 5 orang
f.
Tes IVA
(Asam Asetat)
g.
Memakai
kondom saat berhubungan (Dinkes, 2012)
2.2.8 Penatalaksanaan dan Pengobatan
Tabel 2.2
Penatalaksanaan dan
Pengobatan Kanker Serviks
Stadium
|
Penatalaksanaan
dan Pengobatan
|
0
|
Biopsi kerucut,
Histerektomi transvaginal.
|
Ia
|
Biopsi kerucut,
Histerektomi transvaginal.
|
Ib, Ib occ, IIa
|
Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar
limfe paraaorta (bila terdapat metastasis dilakukan radioterapi pasca
pembedahan).
|
IIb, III, IV
|
Histerektomi transvaginal dan terapi
penyinaran pasca bedah
|
IVa, IVb
|
Radioterapi, radiasi paliatif, kemoterapi.
|
Sumber: Sarwono (2008)
2.2.9
Prognosis
Tingkat kesembuhan
berdasarkan stadium kanker lihat tabel dibawah ini:
Tabel 2.3
Tingkat Kesembuhan Berdasarkan Stadium Kanker
Stadium
|
Tingkat
Kesembuhan
|
Stadium Ia
|
100%
|
Stadium Ib
|
83%-90%
|
Stadium IIa
|
68%-83%
|
Stadium IIb
|
62%-68%
|
Stadium IIIa
|
33%-48%
|
Stadium IVa,IVb
|
14%
|
Sumber: Dinkes Aceh (2012)
2.3 Konsep Pap Smear
2.3.1
Pengertian
Pap
Smear merupakan pemeriksaan sederhana yang dikembangkan oleh
Dr. George N. Papanicalaou untuk menemukan proses-proses premalignant atau prakeganasan di ektoserviks atau leher rahim
bagian luar, dan infeksi dalam endoserviks atau leher rahim bagian dalam dan
endometrium (Ova, 2010).
Pemerintahan Kota Banda Aceh melalui Dinas Kesehatan menggelar pemeriksaan
dan deteksi kanker rahim (pap smear) gratis bagi warga Kota Banda Aceh.
Pemeriksaan ini berlangsung di Rumah Sakit Umum (RSU) Meuraxa (Serambi-Indonesia,
2009).
2.3.2 Tujuan
Pemeriksaan Pap Smear
Tujuan dari deteksi
dini kanker servik atau pemeriksaan Pap Smear ini adalah untuk menemukan adanya
kelainan pada mulut leher rahim. Meskipun kanker tergolong penyakit mematikan,
namun sebagian besar dokter ahli kanker menyebutkan bahwa dari seluruh jenis
kanker, kanker servik termasuk yang paling bisa dicegah dan diobati apabila
terdeteksi sejak awal. Oleh karena itu, dengan mendeteksi kanker servik sejak
dini diharapkan dapat mengurangi jumlah penderita kanker serviks (Wijaya,
2010).
2.3.3 Wanita
Yang Diajurkan Pap smear.
a.
Wanita
yang dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan Pap Smear sebagai berikut :
1)
Wanita
yang berusia muda sudah menikah atau belum namun aktivitas seksualnya tinggi.
2)
Wanita
yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita HPV (Human Papilloma
Virus ) atau kutil kelamin.
3)
Wanita
yang berusia diatas 30 tahun yang telah menikah
4)
Hasil
pap smear menunjukkan abnoramal
5)
Sesering
mugkin setelah penilaian dan pengobatan prakanker maupun kanker servik
6)
Wanita
yang mengunakan pil KB
b. Wanita yang dianjurkan untuk melakukan
pemeriksaan Pap Smear dengan kondisi khusus (Dinkes Aceh, 2012) :
1) Wanita yang telah diangkat rahimnya
- Masih perlu, jika sebelum rahim diangkat: pasien mempunyai hasil Pap
Smear HSIL, pasien mempunyai riwayat CIN 2/3, dan pasien belum pernah melakukan
pemeriksaan sitologik serviks. Pemeriksaan dilakukan setiap tahun, jika selama
tiga tahun berturut-turut hasilnya negatif maka setelah itu skrining
dihentikan.
- Tidak perlu, jika pasien sebelumnya tidak memiliki riwayat
pemeriksaan Pap Smear maupun HPV-DNA abnormal.
2) Pasca Vaksinasi
Skrining kanker serviks secara rutin tetap diperlukan
oleh wanita yang sudah di vaksin kerena pasien yang sudah terinfeksi tipe 16
dan 18 vaksin yang diberikan tidak memberikan perlindungan sempurna.
2.3.4 Waktu,
Teknik dan Hasil Pemeriksaan Pap Smear
a.
Waktu Pemeriksaan
Pap Smear
1) Adapun waktu untuk melakukan Pap Smear secara
teratur yang dikemukan oleh Samadi, 2010 yaitu :
- Setiap 6 bulan untuk wanita yang berusia muda
sudah menikah atau belum menikah namun aktivitas seksualnya sangat tinggi.
-
Untuk yang resiko rendah setiap 1 tahun sekali
Teknik
pemeriksaan :
-
Ibu dalam posisi litotomi
-
Setelah portio tampak, maka spatula dimasukkan ke dalam kanalis servikalis, lalu spatula diputar 180° searah
jarum jam. Spatula dengan ujung pendek diusap 360° pada permukaan serviks
-
Lendir yang didapat dioleskan pada objek glass berlawanan arah jarum jam
-
Apusan hendaknya dilakukan sekali saja, lalu difiksasi atau direndam
dalam larutan alkohol 96% selama 30 menit
-
Sediaan dapat dikirim secara basah (tetap direndam dalam alkohol) atau
dikirim secara kering dengan mengeringkan sediaan setelah direndam dalam
alkohol. Selanjutnya sediaan tadi dikirim ke Ahli Patologi Anatomi untuk
diperiksa.
-
Sampel /
Bahan yang diperiksa dapat dijadikan sampel adalah dari cervical/ vaginal smear (yang sering digunakan), sputum, bronchial washing/ brushing,
nasopharyngeal smear/ washing/ brushing, urin, cairan lambung/ pleura/ ascites/ sendi,
liquor cerebrospinal, aspirat AJH, inprint neoplasma. Bahan kimia untuk fiksasi sampel antara lain : alkohol 96% (lebih banyak
digunakan),
alkohol 70%, methanol, alkohol 50%, either-alkohol 95%.
c. Hasil Pap Smear
-
Class I : Normal. Tidak ada sel abnormal terdeteksi
-
Class II : Sel
bersisik atipikal tidak terdeterminasi signifikan mengungkapkan adanya sedikit
sel bersisik abnormal. Tapi belum jelas memperlihatkan apakah ada sel prakanker
-
Class III : Moderated
(lesi
intraepitelial sel bersisik)→Mungkin sel prakanker
-
Class IV : sel glandular atipikal→Menunjukkan sel abnormal tapi belum jelas bersifat kanker
-
CLASS V: Kanker sel bersisik atau sel adenocarsinoma →Menunjukkan adanya sel abnormal bersifat kanker.
2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tengkat Pengetahuan
Wanita Usia Subur (Wus) Tentang Pap Smear Dalam Deteksi Dini Kankers Serviks
2.4.1 Usia
Usia wanita usia subur (WUS) sangat berpengaruh pada
insidensi terkena kanker serviks, insidensi yang sering terjadi terdapat yaitu pada usia antara 30-60 tahun, terbanyak antara 45-50 tahun.
Wanita berusia < 35 tahun menunjukan kanker serviks yang invasif dan Karsinoma
In Situ (KIS). Setelah melewati usia 30 tahun harus menyediakan sarana
penanganan untuk berhenti sampai di usia 60 tahun. Untuk mengenali bentuk
porsio yang mencurigakan maka dapat dilakukan Pap Smear oleh dokter atau bidan
di puskesmas ataupun rumah sakit (Sarwono, 2008).
Kanker leher rahim paling sering menimpa wanita usia
berumur lebih dari 40 tahun. Tetapi, tidak menutup kemungkinan terjadi pada
usia produktif wanita yakni 35-40 tahun (Aulia, 2012).
Insiden kanker serviks meningkat sejak usia 25-34 tahun,
dan menunjukan puncaknya pada kelompok umur 35-40 tahun. Wanita berusia di atas
40 tahun lebih rentan terkena kanker serviks, semakin tua umur seorang wanita
maka makin tinggi resiko yang di deritanya (infopasutri.wordpress.com/2011).
Usia terlalu tua (>35 tahun) lebih beresiko terkena
kanker, karena tingginya akumulasi karsinogen dan menurunya sistem imun. Usia
terlalu muda (<26 tahun) dan aktivitas seksual tinggi maka pada usia ini dapat meransang terjadinya sel kanker
pada serviks karena mukosa serviks belum sempurna
(biologi-sakti.blogspot.com/2011).
Wanita usia diatas
30 tahun yang telah aktif secara seksual beresiko tinggi mengalami infeksi HPV
yang menetap dan harus segara ada penanganan. Infeksi HPV yang menetap
berkaitan erat dengan kejadian kanker serviks (Dinkes Aceh, 2012).
2.4.2 Sosial
Ekonomi
Pemeriksaan dini kanker serviks memerlukan biaya tidak
murah. Di negara berkembang alokasi dana itu masih terbatas sehingga menghambat
pelayanan gratis skrining bagi
masyarakat. Akibatnya, kanker serviks biasanya diketahui di stadium lanjut
(Ova, 2010).
Perempuan dengan tingkat objek rendah mempunyai resiko
tinggi untuk menderita daripada perempuan yang ekonominya menengah atau tinggi hal
ini berkaitan dengan gizi, status imunitas dan pelayanan kesehatan (Samadi,
2010).
Pendapatan merupakan ukuran yang sering digunakan untuk
melihat status sosial ekonomi pada suatu kelompok masyarakat. Semakin baik
kondisi status ekonomi masyarakat semakin tinggi persentasi yang digunakan
untuk pelayanan kesehatan. Data survei Kesehatan tahun 2007, memperlihatkan
rata-rata penggunaan pelayanan kesehatan meningkat berhubungan dengan
meningkatnya pendapatan, baik pria maupun wanita (Depkes RI, 2008).
Faktor
sosial ekonomi adalah salah satu faktor sulitnya didapatkan hak atas kesehatan.
Warga yang kenyataannya miskin tidak bisa mendapatkan kartu pelayanan kesehatan
gratis justru orang yang mampu yang mendapatkannya. Ketika sudah berhadapan
dengan pelayan kesehatan di rumah sakit yang sudah ditunjuk untuk memberikan
biaya berobat gratis. Semua janji mendapatkan kemudahan dan tanpa biaya
sepeserpun untuk sehat hanya menjadi mimpi. Tidak bisa dipungkiri kalau orang
yang mampu membayar lebih diutamakan.
Wakil
Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal (2009), pemeriksaan
pap smear untuk saat ini masih relatif mahal, banyak perempuan yang tidak
mengetahui apa dan bagaimana
pap smear. Warga yang tidak mampu dari segi
ekonomi bisa memeriksakan dirinya ke RSU Meuraxa. Kegiatan yang dilakukan
adalah untuk menyosialisasikan pencegahan dini kanker leher rahim atau penyakit
di bagian reproduksi wanita lainnya (Serambi-Indonesia, 2009).
2.4.3 Pendidikan
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
(SISDIKNAS) no 12 tahun 2012 menyatakan bahwa jenjang pendidikan formal terdiri
atas Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, Pendidikan Tinggi. Pendidikan dasar
terbentuk Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtida’yah (MI), Sekolah Menengah
Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),
Perguruan Tinggi berbentuk Akademik, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institusi,
Universitas (Duracman, 2009).
Pendidikan merupakan proses belajar yang pernah ditempuh
secara formal dalam lembaga pendidikan. Tingkat pendidikan mempunyai hubungan
dengan motivasi untuk malakukan pap smear, karena semakin tinggi tingkat
pendidikan, maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan dan kesadaran pada
orang tersebut dalam menerima informasi. Tingkat pendidikan akan berbeda cara
penilaian seseorang, sehingga timbul keinginan seseorang itu terhadap kematian
akibat penyakit organ reproduksinya karena rendahnya pengetahuan dan kesadaran
wanita untuk malakukan pap smear (wordpress.com/2009).
Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata
laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui
upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan wanita yang rendah akan menyulitkan
proses pengajaran dan pemberian informasi, sehingga pengetahuan tentang deteksi
dini kanker serviks juga terbatas. Pengetahuan sangat erat kaitannya
dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka
orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Namun perlu ditekankan
bahwa seorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan
rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat
diperoleh pada pendidikan non formal, pengetahuan seseorang dengan suatu obyek
juga mengandung dua aspek yaitu positif dan negative. Kedua aspek ini lah yang
akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap obyek tertentu. Semakin
banyak aspek positif dari obyek yang diketahui, akan menumbuhkan sikap positif
terhadap obyek tersebut (Siswoyo, 2007).
BAB
III
METODE
PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian
Penelitian ini analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika kolerasi antara
faktor-faktor resiko dengan efek, dengan
cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time apporoach). Artinya, tiap
subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan
terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini
tidak berarti bahwa semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama
(Notoatmodjo, 2010).
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1. Lokasi
Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
3.2.2. Waktu
penelitian
Penelitian
ini dilakukan pada bulan Juli sampai bulan Agustus 2013.
3.3. Populasi dan Sampel
3.3.1. Populasi
Menurut Notoatmodjo (2010),
populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti.
Populasi dalam penelitian ini adalah Wanita Usia Subur (WUS) yang berkunjung ke Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh
di ruang poli kebidanan untuk melakukan Pap Smear.
3.3.2. Sampel
Menurut Notoatmodjo (2010)
sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan
dianggap mewakili seluruh populasi.
Sampel dalam penelitian ini adalah Wanita Usia Subur (WUS) yang berkunjung ke Rumah
Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh di ruang poli kebidanan. Karena populasi
tidak diketahui maka peneliti mengambil jumlah sampel dengan Estimasi Proporsi.
Berikut cara menghitung sampel menurut Lameshow :
n = 
Keterangan :
n = Besar sampel
Q =
1-P
d = Tingkat ketepatan yang dikehendaki (10%)
Maka dapat dijabarkan sebagai berikut :
Dik : P = 0,50
Jadi :
n = = 
n =
n =
n =
= 96 sampel
Teknik pengumpulan sampel dalam penelitian ini
digunakan teknik Accidental Sampling
yang berarti sampel diambil dari responden atau kasus kebetulan ada disuatu
tempat atau keadaan tertentu.
3.4 Kerangka Konsep
Kerangka konsep
penelitian adalah suatu hubungan antara kerangka konsep yang satu dengan yang
lainnya dari masalah yang ingin diteliti, konsep tidak dapat diukur atau diamati
langsung, untuk dimengerti dan diukur maka kerangka konsep tersebut harus digambarkan
ke sub-sub variabel (Notoatmodjo, 2010)
Menurut
Sarwono (2008), faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan wanita usia subur
(WUS) tentang Pap Smear dalam deteksi dini kanker serviks adalah usia, menurut
Aziz (2006) yaitu pendidikan, dan menurut Ova (2010) sosial ekonomi dan
kepercayaan. Karena keterbatasan dana dan waktu maka peneliti hanya mengambil
tiga variabel yang dapat dilihat pada kerangka konsep dibawah ini:
Variabel Independen Variabel
Dependen
![]() |
Gambar 3.1. Kerangka Konsep
3.5
Definisi Operasional
Menurut Hidayat
A. A 2007, Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara
operasional berdasarkan karakterisrik yang diamati, memungkinkan peneliti untuk
melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau
fenomena. Adapun defenisi operasional pada penelitian ini dapat dilihat pada
tabel 3.1 berikut :
Tabel
3.1
Definisi
Operasional
No
|
Variabel Dependen
|
Definisi Operasional
|
Cara Ukur
|
Alat Ukur
|
Hasil Ukur
|
Skala Ukur
|
1
|
Pengetahuan
|
Segala
sesuatu yang diketahui oleh WUS tentang Pap Smear dalam deteksi dini kanker
serviks
|
Menyebar
kuesioner dengan kriteria jika:
a.
Baik, apabila mampu menjawab 7-10 pertanyaan (75 – 100 %) dengan benar.
b.
Cukup, apabila mampu menjawab 4-6 pertanyaan(56 – 75 %) dengan benar.
c.
Kurang, apabila mampu menjawab < 4 pertanyaan (<56 %) dengan benar. (Arikunto, 2006)
|
Kuesioner
|
a.
Baik
b.
Cukup
c.
Kurang
|
Ordinal
|
No
|
Variabel Independen
|
Definisi
Operasional
|
Cara Ukur
|
Alat Ukur
|
Hasil Ukur
|
Skala Ukur
|
1
|
Usia
|
Umur adalah
jumlah tahun kehidupan yang dijalani responden di hitung sejak lahir
sampai penelitian dilakukan
|
Menyebar
kuesioner dengan kriteria jika:
a.
Ya
beresiko, apabila usia > 30
tahun
b.
Tidak
beresiko, apabila usia < 30 tahun.
(Sarwono, 2008)
|
Kuesioner
|
a.
Ya
b.
Tidak
|
Ordinal
|
2
|
Sosial Ekonomi
|
Rata-rata
penghasilan keluarga dalam satu bulan
|
Menyebar
kuesioner dengan kriteria jika:
a. Tinggi,di
atas UMP : >Rp. 1.550.000/bulan
b. Rendah,di
bawah UMP : <Rp. 1.550.000/bulan (UMP Aceh, no 65 tahun 2012)
|
Kuesioner
|
a. Tinggi
b. Rendah
|
Nominal
|
3
|
Pendidikan
|
Pendidikan
yaitu jenjang pendidikan formal yang telah diselesaikan oleh responden
|
Menyebar
kuesioner dengan kriteria jika:
a. Tinggi, apabila pendidikan perguruan
tinggi
b. Menengah, apabila pendidikan SMU/SLTA
c. Dasar, apabila
pendidikan SD/SMP
(UU
Pendidikan RI no 12 tahun 2012)
|
Kuesioner
|
a.
Tinggi
b.
Menengah
c.
Dasar
|
Ordinal
|
3.6
Cara Pengumpulan
Data
3.6.1 Jenis Data
a. Data
Primer
Data
primer diperoleh dengan cara
membagikan angket kepada responden, yang
dibagikan kepada Wanita Usia
Subur di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
b. Data
Skunder
Data skunder diperoleh dari Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh serta berbagai referensi yang
berhubungan dengan penelitian ini.
3.7 Instrument Penelitian
Instrument
yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner (dasar pertanyaan) yang
berisi tentang pengetahuan, usia, sosial ekonomi dan pendidikan dengan jumlah 14
soal, yang terdiri dari 1soal tentang usia, 2 soal tentang sosial ekonomi, 1
soal tentang pendidikan dan 10 soal tentang pengetahuan WUS tentang pap smear dalam deteksi dini kanker serviks
dengan kriteria: jika jawaban benar di beri skor 2,
jawaban hampir mendekati benar diberi skor 1 dan jika jawabannya salah
diberi skor 0.
3.8 Pengolahan dan Analisa Data
3.8.1 Pengolahan Data
Menurut
Notoadmodjo (2010), hasil pengolahan dan
analisa data yang akan kita proses dengan bantuan komputer, juga tergantung
pada kualitas data itu sendiri. Proses pengolahan data melalui tahap-tahap
sebagai berikut :
1) Editing
Hasil wawancara, angket, atau pengamatan dari
lapangan harus dilakukan penyunting (editing) terlebih dahulu. Secara umum
editing adalah kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau
kuesioner.
2) Coding
Tahapan mengubah data berbentuk
kalimat atau huruf menjadi data angka.
3) Scoring
Tahapan yang dilkukan setelah
ditetapkan kode jawaban atau hasil observasi sehingga setiap jawaban dapat
diberikan skor.
4) Cleaning
Tahapan pengecekan kembali untuk
melihat kemungkinan adanya kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya,
kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.
3.8.2 Analisa Data
a.
Analisa Univariat
Analisa Univariat bertujuan untuk
menjelaskan dan mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian
(Notoatmodjo, 2010)
Cara pengukuran variabel:
1) Tingkat
Pengetahuan WUS dikelompokan dalam 3 kategori
- Baik:
apabila mampu menjawab 7-10
pertanyaan (75 – 100 %) dengan benar.
- Cukup: apabila
mampu menjawab 4-6 pertanyaan (56 –
75 %) dengan benar.
- Kurang: apabila mampu menjawab < 4
pertanyaan (<56 %) dengan benar
2) Tingkat
Usia WUS dikelompokan dalam 2 kategori
-
Ya Beresiko: apabila usia >30 tahun
-
Tidak beresiko: apabila usia <30
tahun
3) Tingkat
Sosial Ekonomi WUS dikelompokan dalam 2 kategori
-
Tinggi, Di
atas UMP : >Rp. 1.550.000/bulan
-
Rendah, Di
bawah UMP : <Rp. 1.550.000/bulan
4) Tingkat
Pendidikan WUS dikelompokan dalam 3 kategori
-
Tinggi :
apabila pendidikan perguruan tinggi
-
Menengah :
apabila pendidikan SMU/SLTA
-
Dasar :
apabila pendidikan SD/SMP
Kemudian dari persentase
ketiap-tiap kategori dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
|
Keterangan
:
P = persentase
f i = frekuensi yang teramati
n = jumlah
responden yang menjadi sampel
b. Analisa Bivariat
Analisa Bivariat merupakan analisa hasil dari variabel-variabel bebas
yang diduga mempunyai hubungan dengan variabel terkait. Analisa yang digunakan
adalah analisa tabel silang. Untuk menguji Hipotesa, dilakukan analisa
Statistik dengan menggunakan uji Chi-Square
pada tingkat kemaknaan 95% ( p < 0,05 ) sehingga dapat diketahui ada
tidaknya pengaruh yang bermakna secara statistik dengan menggunakan program
SPSS for windows versi 17.0. Melalui perhitungan uji Chi-Square tes selanjutnya ditarik kesimpulan bila P lebih kecil
dari alpha ( p < 0,05 ) maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang menunjukan
adanya hubungan bermakna antara variabel dependen dengan variabel independen
dan jika P lebih besar alpha ( p > 0,05 ) maka Ho diterima dan Ha ditolak
yang menunjukan tidak adanya hubungan antara variabel dependen dengan veriabel
independen. Dengan menggunakan rumus:
|
|
Keterangan
:
∑
= Jumlah
0
= Frekuensi observasi
E
= Frekuensi Harapan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar