Sabtu, 17 Agustus 2013

Manfaat Penelitian



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
                  Sesuai dengan Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan bab I pasal 1 ayat (1) “Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis”. Pada bab VI pasal 71 ayat (1) ”Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi pada laki-laki dan perempuan” dan pada bab X ayat (1) “Pemerintah daerah dan masyarakat bertanggung jawab melakukan upaya pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan penyakit menular serta akibat yang ditimbulkannya.
                   World Health Organitation (WHO) menyatakan pada tahun 2015, diperkirakan ada 9 juta orang meninggal kerena kanker dan tahun 2030 diperkirankan ada 11,4 juta orang karena kanker (infopasutri.wordpress.com, 2011).
1
 
            Menurut Yayasan Kanker Indonesia, saat ini penyakit Kanker serviks menyebabkan korban meninggal sedikitnya 200.000 wanita per tahun atau diperkirakan setiap harinya terjadi 41 kasus baru kanker serviks dan 20 perempuan meningal dunia karena penyakit tersebut. Kanker leher rahim atau karsinoma leher rahim uterus merupakan kanker pembunuh wanita nomor dua didunia dengan frekuensi relatif tertinggi (25,6%). Setiap tahunnya terdapat kurang lebih 500 ribu kasus baru kanker leher rahim sebanyak 80% terjadi pada wanita yang hidup dinegara berkembang. Sedikitnya 231.000 ribu wanita diseluruh dunia meninggal akibat kanker leher rahim. Dari jumlah itu, 50 % kematian terjadi di negara-negara berkembang. Hal itu terjadi karena pasien mengatahui setelah stadium lanjut (Depkes, 2008).
                 Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, AKI sebesar 228/100.000 Kelahiran Hidup (KH). Pemerintah memerlukan upaya yang sinergis dan terpadu untuk mempercepat penurunan AKI yang  merupakan tujuan kelima target Millenium Development Goals (MDGs) yaitu Meningkatkan Kesehatan Ibu pada tahun 2015 dengan target AKI sebesar 102/100.000 kelahiran hidup. Tentunya hal ini merupakan tantangan yang cukup berat bagi Pemerintah Indonesia. AKI di Indonesia masih tinggi bila dibandingkan dengan AKI di negara Asia lainnya. Penurunan AKI hanya mencapai 52% dari keadaan tahun 1990 dari target 75%. Berdasarkan kecenderungan angka-angka tersebut, akan sulit dicapai target MDGs tahun 2015 (Depkes RI, 2007).
                   Kepala Dinas Kesehatan Aceh M. Yani (2013) Dinas Kesehatan Aceh bertekad untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak di Aceh, dengan koordinasi terus menerus dengan kabupaten dan semua pihak yang terkait. Angka kematian ibu dan anak masih tinggi di Aceh. Angka kematian ibu dan anak mencapai 153 /100.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) di Aceh menurun hingga 26 % pada tahun 2010. Diprediksikan, tahun ini AKI di Aceh akan terus menurun karena peran tenaga medis termasuk bidan sudah meningkat (Gampong/Desa Geuceu Kayee Jato, ATJEHPOST.com, Jumat 11 Januari 2013).
                   Kurangnya pengetahuan masyarakat, terutama kaum Hawa, mengenai kanker serviks dan keengganan untuk melakukan deteksi dini dengan pap smear, menyebabkan sebagian besar (>70%) pasien berobat kedokter dalam kondisi yang sudah parah dan sulit di sembuhkan. Hanya sekitar 2% dari wanita di Indonesia yang memiliki pengetahuan tentang kanker serviks (Aulia, 2012).
                   Usia wanita usia subur (WUS) sangat berpengaruh pada insidensi terkena kanker serviks, insidensi yang sering terjadi terdapat  yaitu pada usia antara  30-60 tahun, terbanyak antara 45-50 tahun. Wanita berusia <35 tahun menunjukan kanker serviks yang invasif dan Karsinoma In Situ (KIS). Setelah melewati usia >30 tahun harus menyediakan sarana penanganan untuk berhenti sampai di usia 60 tahun (Sarwono,2008).
                   Pengetahuan dan pendidikan wanita usia subur tentang kanker servik akan membentuk sikap positif terhadap rendahnya deteksi dini kanker servik. Hal ini juga merupakan faktor dominan dalam pemeriksaan deteksi dini kanker serviks. Pengetahuan dan pendidikan yang dimiliki wanita usia subur tersebut akan menimbulkan kepercayaan ibu tentang deteksi dini kanker serviks (Aziz, 2007).
                   Wanita dengan tingkat ekonomi rendah mempunyai resiko tinggi untuk menderita daripada perempuan yang ekonominya menengah atau tinggi hal ini berkaitan dengan gizi, status imunitas dan pelayanan kesehatan (Samadi, 2010).
                   WHO menganjurkan penggunaan tes Papanicolauo (Pap Smear) sebagai skrining awal yang efektif untuk mendeteksi lesi pada serviks atau vagina. Hasil sediaan Pap Smear yang representatif untuk skrining adalah yang mengandung sel yang mewakili squamocolumnair junction (WHO, 2008).
                   Test pap dapat mendeteksi perubahan awal sel di leher rahim (displasia) sebelum berubah menjadi kanker. Pap Smear juga dapat mendeteksi sebagian besar kanker serviks pada tahap awal (Ova, 2010).
                   Pemerintahan Kota Banda Aceh melalui Dinas Kesehatan menggelar pemeriksaan dan deteksi kanker rahim (papsmear) gratis bagi warga Kota Banda Aceh yang terdiri dari 90 desa. Pemeriksaan ini berlangsung di Rumah Sakit Umum (RSU) Meuraxa (Gampong/Desa Geuceu Kayee Jato, ATJEHPOST.com, Jumat 11 Januari 2013). 
                   Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk malakukan penelitian mengenai “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) Tentang Pap Smear Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh”.



1.2 Rumusan Masalah
            Dilihat dari latar belakang  yang telah di jelaskan di atas, maka yang menjadi permasalahan adalah Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) Tentang Pap Smear Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks Di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh”
1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
     Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi dini kanker serviks di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
1.3.2        Tujuan Khusus
1)      Untuk mengetahui hubungan usia dengan tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi dini kanker serviks di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
2)      Untuk mengetahui hubungan sosial ekonomi dengan tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi dini kanker serviks di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
3)      Untuk mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi dini kanker serviks di Rumah  Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.


1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1  Manfaat bagi peneliti
                        Diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan penelitian yang berhubungan dengan faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi dini kanker servik.
1.4.2        Manfaat bagi tempat penelitian
      Diharapkan penelitian ini  dapat memberikan informasi yang signifikan baik dalam membantu mengetahui faktor rendahnya informasi yang didapatkan dari pelayanan maupun penyuluhan kesehatan tentang pap smear dalam deteksi dini kanker servik.
1.4.3        Manfaat bagi instusi pendidikan
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan masukan dalam membimbing dan menambah pengetahuan mahasiswi kebidanan tentang pentingnya pap smear dalam deteksi dini kanker servik.
1.5  Hipotesis
1.5.1        Ada hubungan faktor usia terhadap pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi dini kanker servik di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
1.5.2        Ada hubungan faktor sosial ekonomi terhadap pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi dini kanker servik di Rumah Sakit Umum Kota Banda Aceh.
1.5.3        Ada hubungan faktor pendidikan terhadap pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap smear dalam deteksi dini kanker servik di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pengetahuan
       2.1.1 Pengertian
             Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan  terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Berdasarkan pengalaman dan penelitian, perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak di dasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2010).

      2.1.2   Tingkat Pengetahuan
             Menurut Notoatmodjo (2010) pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif  mempunyai 6 tingkat, yaitu :
1)    Tahu  (know)
Tahu dapat diperhatikan sebagai mengingat  suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.Termasuk dalam pengetahuan tingkat pengetahuan ini  adalah


mengingat kembali suatu spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari meliputi pengetahuan terhadap fakta, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori dan kesimpulan. Oleh karena itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, mendatakan dan lain sebagainya.
2)   Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai kemampuan menjelasakan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginteprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham tentang objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3)   Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya (real). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, prinsip dan sebagainya dalam konteks lain.
4)   Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5)   Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan dan dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6)  Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek, penilaian didasarkan pada kriteria tertentu.

2.2 Konsep Kanker Serviks
2.2.1 Pengertian
Kanker serviks adalah kanker yang terjadi di cervix uteri, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim dengan liang senggama (Sarwono, 2008).
2.2.2   Etiologi
                   Penyebab kanker serviks:
1.      Virus HPV (Human papillomaviruses) tipe resiko tinggi dan rendah. Resiko rendah (tipe 6,11,42,43,44) HPV tipe ini disebut Non-Onkogenik, jika terinfeksi hingga menimbulkan lesi jinak, misalnya seperti kutil, jengger ayam dan sebagainya dan resiko tinggi (tipe 16,18,31,33,35,39,45,51,52,56,58,59) HPV tipe resiko tinggi ini disebut Onkogenik, jika terinfeksi dan tidak di ketahui atau tidak di obati bisa jadi kanker (Samadi, 2010)
2.      Tidak Adanya Tes Pap Smear secara Teratur
Kanker leher rahim lebih sering diderita oleh wanita yang tidak melakukan Pap Smear secara teratur. Tes ini dapat membantu para dokter menemukan sel-sel sebelum bersifat kanker (precancerrous cells) dan mendeteksi perubahan sel rahim yang disebabkan oleh HPV. Dengan demikian, dapat dilakukan perawatan mencegah kanker leher rahim, diantaranya ialah metode pembekuan (freezing) dan pembakaran (burning) jaringan yang terinfeksi.
3.      Lemahnya Sistem Imun
Wanita yang terinfeksi HIV (virus yang menyebabkan penyakit AIDS) atau meminum obat-obatan penekanan sistem imun, mempunyai resiko kanker serviks lebih tinggi daripada yang lain.
4.      Faktor Usia
Kanker leher rahim paling sering menimpa wanita berumur >40 tahun.
5.      Sejarah Seksual
Wanita dengan banyak pasangan seksual memiliki resiko tinggi menderita kanker leher rahim daripada wanita dengan satu pasangan tetap. Demikian halnya dengan wanita yang melakukan hubungan seksual dengan pria yang memiliki banyak pasangan seksual. Kedua golongan tersebut memiliki resiko tinggi karena sangat rentan terinfeksi HPV.
6.      Merokok
Wanita perokok yang terinfeksi HPV mempunyai resiko kanker leher rahim lebih tinggi ketimbang wanita yang juga terinfeksi HPV namun tidak merokok.
7.      Penggunaan Pil Kontrasepsi dalam Jangka Waktu Lama
Penggunaan pil kontrasepsi dalam jangka waktu lama, misalnya 5 tahun atau lebih, dapat meningkatkan resiko kanker leher rahim bagi wanita yang terinfeksi HPV.
8.      Mempunyai banyak Anak
Berdasarkan hasil studi, banyak wanita yang terinfeksi HPV, melahirkan banyak anak dapat menigkatkan resiko kanker leher rahim.
9.      DES (Dietthylsbestrol)
DES diberikan kepada wanita hamil di Amerika pada tahun 1940-1971. Obat ini memiliki kemungkinan meningkatkan resiko kanker leher rahim dan kanker-kanker yang menyerang sistem reproduksi (Aulia, 2012)
    
2.2.3 Klasifikasi
Tingkat keganasan klinik menurut klasifikasi FIGO, 1978 (Sarwono, 2008) sebagai berikut:

Tabel 2.1.
 Tingkat Keganasan Klinik Menurut Figo, 1978 
Tingkat
Kriteria
O
Karsinoma In Situ (KIS) atau karsinoma intraepitel: membrana basalis masih utuh.
I
Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan ke korpus uteri.
Ia
Karsinoma mikro invasif; bila membrana basalis sudah rusak dan tumor sudah memasuki stroma tak > 3mm, dan sel tumor tidak terdapat dalampembuluh limfa atau pembuluh darah.
*) Kedalam invasi 3mm sebaiknya diganti dengan tak >1mm.
Ib occ:
(I b occult = Ib yang tersembunyi); secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma, tetapi pada pemeriksaan histologik ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia.
Ib:
Secara klinis sudah diduga adanya tumor yang histologik menunjukan invasi kedalam stroma serviks uteri.
II
Proses keganasan sudah keluar dari serviks dan menjalar ke ⅔ bagian atas vagina dan ke parametrium, tetapi tidak sampai dinding panggul.
II a
Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bbas dari infiltrat tumor.
II b
Penyebaran ke parametrium, uni/bilateral tetapi belum sampai dinding panggul.
     III
Penyebaran telah sampai ke ⅓ bagian distal vagina atau ke parametrium sampai dinding panggul.
IIIa
Penyebaran sampai ke ⅓ bagian distal vagina, sedang ke parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul.
IIIb
Penyebaran sudah sampai dinding panggul, tidak ditemuka daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul (frozen pelvic) atau proses pada tingkat klinik I atau II,tetapi sudah ada gangguan faal ginjal.
IV
Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa rektum atau kandung kemih (dibuktikan secara histologik), atau telah terjadi metastasis keluar panggul atau ke tempat-tempat yang jauh.
IV a
Proses keluar dari panggul kecil,atau sudah menginfiltrasi mukosa rektum dan/kandung kemih.
Ivb
Telah terjadi penyebaran jauh.
Sumber: Sarowono (2008)


2.2.4 Patofisiologis
Karsinoma serviks timbul dibatas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis cervixs yang disebut sebagai squamo-columnar junction (SCJ). Histoligik antara epitel gepeng berlapis (squamous complex) dari porsio dengan epitel kuboid/silindris pendek selapis bersilia dari endoserviks kanalis cervixs. Pada wanita muda SCJ ini berada di luar ostium uteri eksternum, sedangkan pada wanita berumur >35 tahun SCJ berada dalam kanalis serviks. Pada awal perkembangan, kanker serviks tak memberi tanda-tanda dan keluhan.
Tumor dapat tumbuh seperti:
1)      Eksofitik, mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa proliferatif  yang mengalami infeksi skunder dan nekrosis.
2)      Endofitik, mulai dari SCJ tumbuh kedalam stroma serviks dan cenderung untuk mengadakan inflatrasi menjadi ulkus.
3)      Ulseratif, mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dengan melbatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas (Sarwono, 2008).     

2.2.5        Gejala Klinis
a.     Gejala Dini
-       Sekresi dari vagina berupa air
-       Spooting pasca koitus
-       Metroragia
-       Polimenorea (Promkes, 2006)
b.      Gejala Lanjut
-       Sekresi dari vagina kehitaman dan berbau
-       Nyeri pelvis, abdomen dan bokong
-       Anoraksia
-       Berat badan menurun
-       Disuria
-       Perdarahan dari rektum (Markus, 2009)

2.2.6 Diagnosis
Membuat diagnosis karsinoma serviks yang klinis sudah agak lanjut tidaklah sulit. Yang menjadi masalah ialah, bagaimana mendiagnosis dalam tingkat yang sangat awal, misalnya dalam tingkat pra-invasif, lebih baik bila dapat menangkapnya dalam tingkatan pra-maligna (displasia/diskariosis serviks) (Sarwono, 2008).

2.2.7        Pencegahan
a.       Vaksinasi HPV
b.      Pap Smear
c.       Jangan merokok dan setia pada pasangan
d.      Jangan berhubungan seksual di usia muda dan jangan mengkonsumsi obat-obatan terlalu lama
e.       Jumlah anak kurang dari 5 orang
f.       Tes IVA (Asam Asetat)
g.      Memakai kondom saat berhubungan (Dinkes, 2012)
2.2.8  Penatalaksanaan dan Pengobatan
Tabel 2.2
Penatalaksanaan dan Pengobatan Kanker Serviks

Stadium
Penatalaksanaan dan Pengobatan
0
Biopsi kerucut, Histerektomi transvaginal.
Ia
Biopsi kerucut, Histerektomi transvaginal.
Ib, Ib occ, IIa
Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe paraaorta (bila terdapat metastasis dilakukan radioterapi pasca pembedahan).
IIb, III, IV
Histerektomi transvaginal dan terapi penyinaran pasca bedah
IVa, IVb
Radioterapi, radiasi paliatif, kemoterapi.
  Sumber: Sarwono (2008)
2.2.9 Prognosis
Tingkat kesembuhan  berdasarkan stadium kanker lihat tabel dibawah ini:
Tabel 2.3
Tingkat Kesembuhan Berdasarkan Stadium Kanker
Stadium
Tingkat Kesembuhan
Stadium Ia
100%
Stadium Ib
83%-90%
Stadium IIa
68%-83%
Stadium IIb
62%-68%
Stadium IIIa
33%-48%
Stadium IVa,IVb
14%
Sumber: Dinkes Aceh (2012)
2.3  Konsep Pap Smear
       2.3.1 Pengertian
Pap Smear merupakan pemeriksaan  sederhana yang dikembangkan oleh  Dr. George N. Papanicalaou untuk menemukan proses-proses premalignant atau prakeganasan di ektoserviks atau leher rahim bagian luar, dan infeksi dalam endoserviks atau leher rahim bagian dalam dan endometrium (Ova, 2010).
Pemerintahan Kota Banda Aceh melalui Dinas Kesehatan menggelar pemeriksaan dan deteksi kanker rahim (pap smear) gratis bagi warga Kota Banda Aceh. Pemeriksaan ini berlangsung di Rumah Sakit Umum (RSU) Meuraxa (Serambi-Indonesia, 2009).

2.3.2 Tujuan Pemeriksaan Pap Smear
Tujuan dari deteksi dini kanker servik atau pemeriksaan Pap Smear ini adalah untuk menemukan adanya kelainan pada mulut leher rahim. Meskipun kanker tergolong penyakit mematikan, namun sebagian besar dokter ahli kanker menyebutkan bahwa dari seluruh jenis kanker, kanker servik termasuk yang paling bisa dicegah dan diobati apabila terdeteksi sejak awal. Oleh karena itu, dengan mendeteksi kanker servik sejak dini diharapkan dapat mengurangi jumlah penderita kanker serviks (Wijaya, 2010).

2.3.3   Wanita Yang Diajurkan Pap smear.
a.    Wanita yang dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan Pap Smear sebagai berikut :
1)   Wanita yang berusia muda sudah menikah atau belum namun aktivitas seksualnya tinggi.
2)   Wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita HPV (Human Papilloma Virus ) atau kutil kelamin.
3)   Wanita yang berusia diatas 30 tahun yang telah menikah
4)   Hasil pap smear menunjukkan abnoramal
5)   Sesering mugkin setelah penilaian dan pengobatan prakanker maupun kanker servik
6)   Wanita yang mengunakan pil KB
b.    Wanita yang dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan Pap Smear dengan kondisi khusus (Dinkes Aceh, 2012) :
1)   Wanita yang telah diangkat rahimnya
-  Masih perlu, jika sebelum rahim diangkat: pasien mempunyai hasil Pap Smear HSIL, pasien mempunyai riwayat CIN 2/3, dan pasien belum pernah melakukan pemeriksaan sitologik serviks. Pemeriksaan dilakukan setiap tahun, jika selama tiga tahun berturut-turut hasilnya negatif maka setelah itu skrining dihentikan.
-  Tidak perlu, jika pasien sebelumnya tidak memiliki riwayat pemeriksaan Pap Smear maupun HPV-DNA abnormal.
2)   Pasca Vaksinasi
Skrining kanker serviks secara rutin tetap diperlukan oleh wanita yang sudah di vaksin kerena pasien yang sudah terinfeksi tipe 16 dan 18 vaksin yang diberikan tidak memberikan perlindungan sempurna.

2.3.4   Waktu, Teknik dan Hasil Pemeriksaan Pap Smear
a.       Waktu Pemeriksaan Pap Smear
1)   Adapun waktu untuk melakukan Pap Smear secara teratur yang dikemukan oleh Samadi, 2010 yaitu :
-       Setiap 6 bulan untuk wanita yang berusia muda sudah menikah atau belum menikah namun aktivitas seksualnya sangat tinggi.
-        Untuk yang resiko rendah setiap 1 tahun sekali
b.  Teknik Pemeriksaan Pap Smear
Teknik pemeriksaan :
-       Ibu dalam posisi litotomi
-       Pasang spekulum vagina tanpa menggunakan pelicin, dan tanpa melakukan periksa dalam sebelumnya
-       Setelah portio tampak, maka spatula dimasukkan ke dalam kanalis servikalis, lalu spatula diputar 180° searah jarum jam. Spatula dengan ujung pendek diusap 360° pada permukaan serviks
-       Lendir yang didapat dioleskan pada objek glass berlawanan arah jarum jam
-       Apusan hendaknya dilakukan sekali saja, lalu difiksasi atau direndam dalam larutan alkohol 96% selama 30 menit
-       Sediaan dapat dikirim secara basah (tetap direndam dalam alkohol) atau dikirim secara kering dengan mengeringkan sediaan setelah direndam dalam alkohol. Selanjutnya sediaan tadi dikirim ke Ahli Patologi Anatomi untuk diperiksa.
-       Sampel / Bahan yang diperiksa dapat dijadikan sampel adalah dari cervical/ vaginal smear (yang sering digunakan), sputum, bronchial washing/ brushing, nasopharyngeal smear/ washing/ brushing, urin, cairan lambung/ pleura/ ascites/ sendi, liquor cerebrospinal, aspirat AJH, inprint neoplasma. Bahan kimia untuk fiksasi sampel antara lain : alkohol 96% (lebih banyak digunakan), alkohol 70%, methanol, alkohol 50%, either-alkohol 95%.
c.  Hasil Pap Smear
-   Class I  : Normal. Tidak ada sel abnormal terdeteksi
-   Class II : Sel bersisik atipikal tidak terdeterminasi signifikan mengungkapkan adanya sedikit sel bersisik abnormal. Tapi belum jelas memperlihatkan apakah ada sel prakanker
-   Class III : Moderated (lesi intraepitelial sel bersisik)→Mungkin sel prakanker
-   Class IV : sel glandular atipikal→Menunjukkan sel abnormal tapi belum jelas bersifat kanker
-   CLASS V: Kanker sel bersisik atau sel adenocarsinoma →Menunjukkan adanya sel abnormal bersifat kanker.

2.4  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tengkat Pengetahuan Wanita Usia Subur (Wus) Tentang Pap Smear Dalam Deteksi Dini Kankers Serviks
2.4.1   Usia
Usia wanita usia subur (WUS) sangat berpengaruh pada insidensi terkena kanker serviks, insidensi yang sering terjadi terdapat  yaitu pada usia antara  30-60 tahun, terbanyak antara 45-50 tahun. Wanita berusia < 35 tahun menunjukan kanker serviks yang invasif dan Karsinoma In Situ (KIS). Setelah melewati usia 30 tahun harus menyediakan sarana penanganan untuk berhenti sampai di usia 60 tahun. Untuk mengenali bentuk porsio yang mencurigakan maka dapat dilakukan Pap Smear oleh dokter atau bidan di puskesmas ataupun rumah sakit (Sarwono, 2008).
Kanker leher rahim paling sering menimpa wanita usia berumur lebih dari 40 tahun. Tetapi, tidak menutup kemungkinan terjadi pada usia produktif wanita yakni 35-40 tahun (Aulia, 2012).
Insiden kanker serviks meningkat sejak usia 25-34 tahun, dan menunjukan puncaknya pada kelompok umur 35-40 tahun. Wanita berusia di atas 40 tahun lebih rentan terkena kanker serviks, semakin tua umur seorang wanita maka makin tinggi resiko yang di deritanya (infopasutri.wordpress.com/2011).
Usia terlalu tua (>35 tahun) lebih beresiko terkena kanker, karena tingginya akumulasi karsinogen dan menurunya sistem imun. Usia terlalu muda (<26 tahun) dan aktivitas seksual tinggi maka pada usia  ini dapat meransang terjadinya sel kanker pada serviks karena mukosa serviks belum sempurna (biologi-sakti.blogspot.com/2011).
 Wanita usia diatas 30 tahun yang telah aktif secara seksual beresiko tinggi mengalami infeksi HPV yang menetap dan harus segara ada penanganan. Infeksi HPV yang menetap berkaitan erat dengan kejadian kanker serviks (Dinkes Aceh, 2012).

2.4.2   Sosial Ekonomi
Pemeriksaan dini kanker serviks memerlukan biaya tidak murah. Di negara berkembang alokasi dana itu masih terbatas sehingga menghambat pelayanan gratis skrining bagi masyarakat. Akibatnya, kanker serviks biasanya diketahui di stadium lanjut (Ova, 2010).
Perempuan dengan tingkat objek rendah mempunyai resiko tinggi untuk menderita daripada perempuan yang ekonominya menengah atau tinggi hal ini berkaitan dengan gizi, status imunitas dan pelayanan kesehatan (Samadi, 2010).
Pendapatan merupakan ukuran yang sering digunakan untuk melihat status sosial ekonomi pada suatu kelompok masyarakat. Semakin baik kondisi status ekonomi masyarakat semakin tinggi persentasi yang digunakan untuk pelayanan kesehatan. Data survei Kesehatan tahun 2007, memperlihatkan rata-rata penggunaan pelayanan kesehatan meningkat berhubungan dengan meningkatnya pendapatan, baik pria maupun wanita (Depkes RI, 2008).
Faktor sosial ekonomi adalah salah satu faktor sulitnya didapatkan hak atas kesehatan. Warga yang kenyataannya miskin tidak bisa mendapatkan kartu pelayanan kesehatan gratis justru orang yang mampu yang mendapatkannya. Ketika sudah berhadapan dengan pelayan kesehatan di rumah sakit yang sudah ditunjuk untuk memberikan biaya berobat gratis. Semua janji mendapatkan kemudahan dan tanpa biaya sepeserpun untuk sehat hanya menjadi mimpi. Tidak bisa dipungkiri kalau orang yang mampu membayar lebih diutamakan.
Wakil Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal (2009),  pemeriksaan pap smear untuk saat ini masih relatif mahal, banyak perempuan yang tidak mengetahui apa dan bagaimana pap smear. Warga yang tidak mampu dari segi ekonomi bisa memeriksakan dirinya ke RSU Meuraxa. Kegiatan yang dilakukan adalah untuk menyosialisasikan pencegahan dini kanker leher rahim atau penyakit di bagian reproduksi wanita lainnya (Serambi-Indonesia, 2009).

2.4.3   Pendidikan
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) no 12 tahun 2012 menyatakan bahwa jenjang pendidikan formal terdiri atas Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, Pendidikan Tinggi. Pendidikan dasar terbentuk Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtida’yah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Perguruan Tinggi berbentuk Akademik, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institusi, Universitas (Duracman, 2009).
Pendidikan merupakan proses belajar yang pernah ditempuh secara formal dalam lembaga pendidikan. Tingkat pendidikan mempunyai hubungan dengan motivasi untuk malakukan pap smear, karena semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan dan kesadaran pada orang tersebut dalam menerima informasi. Tingkat pendidikan akan berbeda cara penilaian seseorang, sehingga timbul keinginan seseorang itu terhadap kematian akibat penyakit organ reproduksinya karena rendahnya pengetahuan dan kesadaran wanita untuk malakukan pap smear (wordpress.com/2009).
Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan wanita yang rendah akan menyulitkan proses pengajaran dan pemberian informasi, sehingga pengetahuan tentang deteksi dini kanker serviks juga  terbatas. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Namun perlu ditekankan bahwa seorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal, pengetahuan seseorang dengan suatu obyek juga mengandung dua aspek yaitu positif dan negative. Kedua aspek ini lah yang akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap obyek tertentu. Semakin banyak aspek positif dari obyek yang diketahui, akan menumbuhkan sikap positif terhadap obyek tersebut (Siswoyo, 2007).


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian
Penelitian ini analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika kolerasi antara faktor-faktor resiko dengan efek,  dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time apporoach). Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama (Notoatmodjo, 2010).

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
       3.2.1.   Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
       3.2.2.   Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai bulan Agustus 2013.


3.3. Populasi dan Sampel
       3.3.1.   Populasi
Menurut Notoatmodjo (2010), populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti.
Populasi dalam penelitian ini adalah  Wanita Usia Subur (WUS) yang berkunjung ke Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh di ruang poli kebidanan untuk melakukan Pap Smear.
       3.3.2.   Sampel
Menurut Notoatmodjo (2010) sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi.
Sampel dalam penelitian ini adalah Wanita Usia Subur (WUS) yang berkunjung ke Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh di ruang poli kebidanan. Karena populasi tidak diketahui maka peneliti mengambil jumlah sampel dengan Estimasi Proporsi. Berikut cara menghitung sampel menurut Lameshow :
                                                   n =
Keterangan :
n              = Besar sampel
            = Deviasi normal pada derajat kemaknaan (95%=1,96)
               = Proporsi bila tidak diketahui (50%=0,50)
Q              = 1-P
d           = Tingkat ketepatan yang dikehendaki (10%)

Maka dapat dijabarkan sebagai berikut :
Dik : P = 0,50
         = 1,96
        d = 10%
Jadi :
n =  =
n =
n =
n = = 96 sampel
Teknik pengumpulan sampel dalam penelitian ini digunakan teknik Accidental Sampling yang berarti sampel diambil dari responden atau kasus kebetulan ada disuatu tempat atau keadaan tertentu.

3.4  Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan antara kerangka konsep yang satu dengan yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti, konsep tidak dapat diukur atau diamati langsung, untuk dimengerti dan diukur maka kerangka konsep tersebut harus digambarkan ke sub-sub variabel (Notoatmodjo, 2010)
Menurut Sarwono (2008), faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang Pap Smear dalam deteksi dini kanker serviks adalah usia, menurut Aziz (2006) yaitu pendidikan, dan menurut Ova (2010) sosial ekonomi dan kepercayaan. Karena keterbatasan dana dan waktu maka peneliti hanya mengambil tiga variabel yang dapat dilihat pada kerangka konsep dibawah ini:
Variabel Independen                                                  Variabel Dependen


 











Gambar 3.1. Kerangka Konsep

3.5 Definisi Operasional
            Menurut Hidayat A. A 2007, Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakterisrik yang diamati, memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena. Adapun defenisi operasional pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut :
Tabel 3.1
Definisi Operasional

No
Variabel Dependen
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala  Ukur
1

Pengetahuan

Segala sesuatu yang diketahui oleh WUS tentang Pap Smear dalam deteksi dini kanker serviks

Menyebar kuesioner dengan kriteria jika: 

a.      Baik, apabila mampu menjawab 7-10 pertanyaan (75 – 100 %) dengan benar.

b.    Cukup, apabila mampu menjawab 4-6 pertanyaan(56 – 75 %) dengan benar.

c.      Kurang, apabila mampu menjawab < 4 pertanyaan (<56 %) dengan  benar. (Arikunto, 2006)

Kuesioner
a.    Baik
b.    Cukup
c.    Kurang

Ordinal
No
Variabel Independen
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala Ukur
1
Usia
Umur adalah jumlah tahun kehidupan yang dijalani responden di hitung sejak lahir sampai penelitian dilakukan

Menyebar kuesioner dengan kriteria jika:
a.     Ya beresiko, apabila usia  > 30 tahun
b.    Tidak beresiko, apabila usia < 30 tahun.
  (Sarwono, 2008)
Kuesioner
a.       Ya
b.      Tidak
Ordinal
2
Sosial Ekonomi
Rata-rata penghasilan keluarga dalam satu bulan


Menyebar kuesioner dengan kriteria jika:
a.    Tinggi,di atas UMP : >Rp. 1.550.000/bulan
b.    Rendah,di bawah UMP : <Rp. 1.550.000/bulan (UMP Aceh, no 65 tahun 2012)
Kuesioner
a.     Tinggi
b.    Rendah
Nominal

3








Pendidikan







Pendidikan yaitu jenjang pendidikan formal yang telah diselesaikan oleh responden



Menyebar kuesioner dengan kriteria jika:
a.     Tinggi, apabila pendidikan perguruan tinggi
b.     Menengah, apabila pendidikan SMU/SLTA
c.     Dasar,  apabila pendidikan SD/SMP
(UU Pendidikan RI no 12 tahun 2012)
Kuesioner
a.   Tinggi
b.   Menengah
c.   Dasar
Ordinal

3.6 Cara Pengumpulan Data
3.6.1    Jenis Data
a.       Data Primer
            Data primer diperoleh dengan cara membagikan angket kepada responden, yang dibagikan kepada Wanita Usia Subur di Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh.
b.      Data Skunder
            Data skunder diperoleh dari Rumah Sakit Umum Meuraxa Kota Banda Aceh serta berbagai referensi yang berhubungan dengan penelitian ini.

3.7  Instrument Penelitian
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner (dasar pertanyaan) yang berisi tentang pengetahuan, usia, sosial ekonomi dan pendidikan dengan jumlah 14 soal, yang terdiri dari 1soal tentang usia, 2 soal tentang sosial ekonomi, 1 soal tentang pendidikan dan 10 soal tentang pengetahuan WUS tentang  pap smear dalam deteksi dini kanker serviks dengan kriteria: jika jawaban benar di beri skor  2,  jawaban hampir mendekati benar diberi skor 1 dan jika jawabannya salah diberi skor 0.

3.8 Pengolahan dan Analisa Data
       3.8.1    Pengolahan Data
Menurut Notoadmodjo (2010),  hasil pengolahan dan analisa data yang akan kita proses dengan bantuan komputer, juga tergantung pada kualitas data itu sendiri. Proses pengolahan data melalui tahap-tahap sebagai berikut :
1)      Editing
Hasil  wawancara, angket, atau pengamatan dari lapangan harus dilakukan penyunting (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing adalah kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner.
2)      Coding
Tahapan mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka.
3)      Scoring
Tahapan yang dilkukan setelah ditetapkan kode jawaban atau hasil observasi sehingga setiap jawaban dapat diberikan skor.
4)      Cleaning
Tahapan pengecekan kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.
3.8.2    Analisa Data
a. Analisa Univariat
Analisa Univariat bertujuan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian (Notoatmodjo, 2010)
Cara pengukuran variabel:
1)      Tingkat Pengetahuan WUS dikelompokan dalam 3 kategori
-       Baik: apabila mampu menjawab 7-10 pertanyaan (75 – 100 %) dengan benar.
-       Cukup: apabila mampu menjawab 4-6 pertanyaan (56 – 75 %) dengan benar.
-       Kurang: apabila mampu menjawab < 4 pertanyaan (<56 %) dengan  benar
2)      Tingkat Usia WUS dikelompokan dalam 2 kategori
-        Ya Beresiko: apabila usia >30 tahun
-        Tidak beresiko: apabila usia <30 tahun
3)      Tingkat Sosial Ekonomi WUS dikelompokan dalam 2 kategori
-       Tinggi, Di atas UMP : >Rp. 1.550.000/bulan
-       Rendah, Di bawah UMP : <Rp. 1.550.000/bulan
4)      Tingkat Pendidikan WUS dikelompokan dalam 3 kategori
-          Tinggi       : apabila pendidikan perguruan tinggi
-          Menengah : apabila pendidikan SMU/SLTA
-          Dasar        : apabila pendidikan SD/SMP
Kemudian dari persentase ketiap-tiap kategori dengan menggunakan rumus sebagai berikut:


P =  x 100
 
 


                        Keterangan :
P = persentase
f i = frekuensi yang teramati
n  = jumlah responden yang menjadi sampel

                   b. Analisa Bivariat
     Analisa Bivariat merupakan analisa hasil dari variabel-variabel bebas yang diduga mempunyai hubungan dengan variabel terkait. Analisa yang digunakan adalah analisa tabel silang. Untuk menguji Hipotesa, dilakukan analisa Statistik dengan menggunakan uji Chi-Square pada tingkat kemaknaan 95% ( p < 0,05 ) sehingga dapat diketahui ada tidaknya pengaruh yang bermakna secara statistik dengan menggunakan program SPSS for windows versi 17.0. Melalui perhitungan uji Chi-Square tes selanjutnya ditarik kesimpulan bila P lebih kecil dari alpha ( p < 0,05 ) maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang menunjukan adanya hubungan bermakna antara variabel dependen dengan variabel independen dan jika P lebih besar alpha ( p > 0,05 ) maka Ho diterima dan Ha ditolak yang menunjukan tidak adanya hubungan antara variabel dependen dengan veriabel independen. Dengan menggunakan rumus:


 
 


Keterangan :
∑ = Jumlah
0 = Frekuensi observasi
E = Frekuensi Harapan




Tidak ada komentar: