Senin, 13 Oktober 2014

Pengertian Masyarakat



PENGERTIAN MASYARAKAT MENURUT BEBERAPA AHLI

1.    Abdul Syani (1987)
Masyarakat merupakan kelompok-kelompok makhluk hidup dengan realitas-realitas baru yang berkembang menurut hukum-hukumnya sendiri dan berkembang menurut pola perkembangan tersendiri. Manusia diikat dalam kehidupan kelompok karena rasa sosial yang serta merta dan kebutuhan.
2.    Emile Durkheim (1858-1917)
Masyarakat adalah suatu kenyataan objektif individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya.
3.    Karl Marx (1818-1883)
Masyarakat adalah suatu struktur yang menderita ketegangan organisasi ataupun perkembangan karena adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terpecah-pecah secara ekonomis.
4.    Melville J. Herskovits (1955)
Masyarakat adalah sekelompok individu yang di organisasikan yang mengikuti satu cara hidup tertentu. Pengertian ini menekan adanya ikatan anggota kelompok untuk mengikuti cara-cara hidup tertentu yang ada di dalam kelompok masyarakat.
5.     John Lewis Gillin dan John Gillin (1945)
Masyarakat itu adalah kelompok manusia yang terbesar yang mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu meliputi pengelompokkan-pengelompokan yang lebih kecil. Pengertian ini menunjukkan bahwa masyarakat itu meliputi kelompok manusia yang kecil sampai dengan kelompok manusia dalam suatu masyarakat yang sangat besar, seperti suatu Negara. Seperti kita ketahui bersama suatu Negara juga memiliki tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama dengan keteraturan.
6.      Max Weber (1864-1920)
Masyarakat adalah suatu struktur atau aksi yang pada pokoknya ditentukan oleh harapan dan nilai-nilai yang dominan pada warganya.
7.       Selo Soemardjan
Masyarakat adalah orang –orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
8.      Paul B. Horton
Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relative mandiri, yang hidup bersama-sama cukup lama, yang mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian besar kegiatan dalam kelompok itu. Pada bagian lain Horton mengemukakan bahwa masyarakat adalah suatu organisasi manusia yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
9.      Ralp Linton (1936)
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang telah cukup lama dan bekerja sama, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya sebagai salah satu kesatuan sosial dengan batas tertentu.
10.  Hassan Shaidly (1983)
Masyarakat sebagai suatu golongan besar-kecil dari beberapa manusia, yang dengan atau sendirinya bertalian secara golongan dan mempunyai pengaruh kebatinan satu sama lain.
11.  Koentjaningrat (1980)
Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinue dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.






12.  Mac Iver dan Page
Masyarakat adalah suatu system dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerjasama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dan pengawasan tingkah laku serta kebebasan manusia. keseluruhan yang selalu berubah ini dinamakan masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosal yang selalu berkembang.
13.  Soerjono Soekanto
a.    Sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan. 
b.     Manusia yang hidup bersama sekurang-kurangnya terdiri atas dua orang. 
c.    Merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena mereka merasa dirinya terikat satu dengan lainnya.
d.   Bercampur atau bergaul dalam waktu yang cukup lama. Berkumpulnya manusia akan menimbulkan manusia-manusia baru. Sebagai akibat hidup bersama itu, Timbul sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara manusia. 
14.   Aguste Comte belum dapat






Jurnal



JURNAL SOSIAL DAN POLITIK

Perilaku Kesehatan Santri : (Studi Deskriptif Perilaku Pemeliharaan Kesehatan , Pencarian Dan Penggunaan Sistem Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan Lingkungan Di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Surabaya)

Alim Ikhwanudin
Departemen Sosiologi, FISIP, Universitas Airlangga

ABSTRAK

Dewasa ini pesantren berlomba-lomba memiliki infrastruktur modern, tetapi hanya beberapa pesantren yang menerapkan life-stlye modern. Masih banyak pesantren yang melestarikan kultur tradisional dimana santri di pesantren tersebut dituntut untuk berperilaku sesuai life-style tradisional demi melestarikan kultur tersebut. studi ini dimaksudkan memahami perilaku kesehatan di pesantren, yang berfokuskan tentang bagaimana memahami perilaku pemeliharaan kesehatan santri, memahami perilaku pencarian dan penggunaan sistem pelayanan kesehatan santri, memahami perilaku kesehatan lingkungan, dan rasionalisasi, tindakan sosial terhadap perilaku hidup sehat dan bersih santri di pondok pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.
Menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan teori perilaku kesehatan Notoatmodjo, yang didalamnya juga terdapat model perilaku sakit dan model pencarian kesehatan, serta menggunakan teori tindakan sosial Weber. Studi ini menggunakan metode dan prosedur kualitatif, dengan pendekatan kualitatif deskriptif menggunakan tipe pemilihan informan dengan teknik purposive dan pengumpulan data dengan pengamatan langsung serta melakukan wawancara secara mendalam.
Dari hasil studi didapatkan, bahwa respon santri terhadap perilaku kesehatan masih kurang dipandang dari sudut pandang medis modern, karena pesantren memiliki kultur yang berbeda dengan masyarakat diluar pesantren terlihat dari pertama, dalam memelihara kesehatan, santri masih mempertahankan diri dari penyakit dan menjaga kesehatan masih dengan cara yang sederhana. Kedua, dalam usaha memanfaatkan sistem kesehatan, santri mengacu pada pengetahuan kesehatan yang santri pahami. Ketiga, perilaku kesehatan lingkungan santri dipengaruhi erat struktur dan nilai-nilai budaya serta nilai-nilai religi yang ada dipesantren. Keempat, usaha rasionalisasi PHBS, dengan menyesuaikan dengan nilai-nilai kultural dan religi di pesantren guna meningkatkan derajat kesehatan santri.

Keyword :Health Behaviour, Santri, Rasionalisasi
ABSTRACT

Nowadays pesantren compete to has a modern infrastructure, but it just only a few of pesantren that applied as life-style modern. There are so many pesantren that stil used traditional culture which the santri inside must be following the bahavior of traditional become everlasting. The purpose of this research are to understood the healthy life at pesantren, that focused about how to understood the culture of healthy life santri, to understood the action of santri to looking for healthy facilities, to understood healthy environment, and rasionalitation, the social action of santri to have a healthy life and clean at pondok pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.
To answering that problem, the researcher used the theory of healthy life behavior from Notoatmodjo, which inside it also include sicked behavior model and looking for healthy, also used the theory of social action from Weber. This research used method and procedure of qualitative, with ualitative descriptive approaching and purposive technique and collecting data with direct observation and indepth interview.
As a result of this research, that the responses of santri’s healthy life are not good enough if we see it from modern medical perspective, because pesantren has a different culture with the environment at the outside, we can see it from first, from the maintenance of health, santri still used a konvensional treatment tokeep their life. Second, the effort to used the medical facilities, santri will used their knowledge of medicine. Third, the healthy life at the environment of the santri interrupted by the structure and histories value also religion value at pesantren. Fourth, the rasionalitation of PHBS, combaining with cultural value and religion at pesantren to increase the degrees of healthy live of santri.

Keyword :Health Behaviour, Santri, Rationalitation


Pendahuluan
Pondok pesantren berasal dari kata pe-santri-an yang berarti tempat tinggal santri atau yang dikenal sebagai murid. Pondok berasal dari kata funduuq dari bahasa arab yang berarti penginapan atau asrama . Di dalam pondok pesantren kebanyakan dipimpin oleh seorang kyai dan dibantu oleh murid-murid yang telah di tunjuk untuk mengelola pondok pesantren serta mengelola organisasi atau lembaga yang berada dalam pondok pesantren tersebut. Pondok pesantren merupakan institusi pendidikan tertua yang ada di Indonesia yang telah menjadi produk budaya Indonesia dan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang berkembang sejak awal kedatangan islam di Nusantara. Pondok pesantren tumbuh dan berkembang melayani berbagai kebutuhan masyarakat, sebagai warisan budaya umat islam Indonesia. Pesantren merupakan penguhubung antara masyarakat pelosok pedesaan yang belum pernah tersentuh pendidikan modern, tatkala masyarakat membutuhkan pendidikan (Billah dalam Sulaiman, 2010).
Dari klasifikasi menurut Dhofir, Pesantren dikelompokkan menjadi dua tipe yang didasarkan pada keterbukaannya terhadap perubahan-perubahan sosial, yaitu pesantren salafi dan pesantren khalafi. Pesantren salafiyah (tradisional) yaitu pesantren yang masih mempertahankan bentuk aslinya dengan semata-mata mengajarkan ilmu agama berdasarkan kitab-kitab kuning sebagai sumber literature yang utama. Sedangkan penyelenggaraan pendidikannya menggunakan sistem klasikal (Arab:madrasi) sebagai upaya mempermudah pengajaran dengan menggunakan sistem bandongan dan sorogan. Pesantren khalafy atau khalafiyah adalah pesantren yang telah memasukan mata pelajaran umum dalam kurikulum pendidikannya, menggunakan sistem klasikal, dan orientasi pendidikannnya cenderung mengadopsi sistem pendidikan formal. (Dhofir dalam Sulaiman, 2010)
Kebanyakan pondok pesantren di Indonesia memiliki masalah yang begitu klasik yaitu tentang kesehatan santri dan masalah terhadap penyakit. Masalah kesehatan dan penyakit di pesantren sangat jarang mendapat perhatian dengan baik dari warga pesantren itu sendiri maupun masyarakat dan juga pemeintah. Pesantren sendiri merupakan sebuah sub-kultur dimana pondok pesantren mempunyai kultur tersendiri yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Pesantren sebagai Alternatif Ideal menurut Abdurrahman Wakhid (1978) pesantren sebagai sub-kultur yang memiliki eksistensi yang berbeda dengan masyarakat luar dan memiliki tata nilai dan lengkap dengan simbol-simbol bagi masyarakat pesantren itu sendiri.
Salah satu penyebab buruknya kualitas Kehidupan santri pondok pesantren di Indonesia karena pondok pesantren memiliki perilaku yang sederhana sesuai dengan tradisi dan sub-kultur yang berkembang sejak awalnya berdirinya pesantren, ditambah juga dengan fasilitas kebanyakan pondok pesantren yang kurang untuk menunjang kehidupan sehari-hari termasuk juga fasilitas kesehatannya. Perilaku santri tidak jauh berbeda mencontoh kyai, ustad dan badal (penganti kyai) yang tidak lepas dari perilaku kesederhanaan dan kesahajaan karena alasan keterbatasan fasilitas dan sarana dalam pondok pesantren (Rofiq, 2008). Sangat berhubungan antara keterbatasan fasilitas dan sarana di dalam pesantren dengan semangat hidup para santri dengan orang-orang di luar pesantren, yaitu fokus mereka dalam hidup sebagai perjuangan, baik perjuangan ekonomi maupun perjuangan menyebarkan agama islam dalam suasana yang tidak mendukung (Castles dalam O’halon, 2006).
Kesederhanaan dan kesahajaan serta kurangnya fasilitas dan sarana di pondok pesantren menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan santri di pondok pesantren. Disamping itu terdapat pula faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku kesehatan santri di Pondok pesantren, antara lain, kurangnya promosi kesehatan.
 Menurut The Ottawa Charter (dalam WHO, 2013) Promosi kesehatan merupakan proses meningkatkan kemampuan orang dalam mengendalikan dan meningkatkan keadaan sehat, seseorang atau kelompok dan harus mampu mengidentifikasi dan menyadari aspirasi, serta mampu memenuhi kebutuhan dan perubahan atau mengendalikan lingkungan. Di dalam promosi kesehatan berperan penting dalam edukasi kepada santri terhadap hidup sehat, menjaga dirinya agar tetap sehat, meningkatkan kualitas kesehatan, peka dan tanggap terhadap datangnya penyakit, mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan dan perubahan-perubahan yang terjadi.
Dalam beberapa penelitian yang tentang penyakit menular di pondok pesantren di Jawa Timur. penelitian Dhini Marga Rahadian, (2008), Higiene Perorangan Santri dan Sanitasi Pondok pesantren putrid KHA. Wahid Hasyim Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Disimpulkan bahwa kondisi sanitasi pondok pesantren masih kurang baik dan kebanyakan santri sering menderita sakit flu, pusing, pilek batuk, migrain, sakit gigi dan sebagainya. penelitian tesis Siti Rahayu  (2006). Tentang perbedaan prevalensi Anemi pada tingkat kesegaran jasmani antara santriwati di pondok pesantren pesisir dan non-pesisir, ditemukan bahwa pondok pesantren non-pesisir pervalensi penyakit anemi lebih tinggi dari pada prevalensi pondok pesantren di pesisir, karena pemenuha gizi pesantren di pesisir lebih baik dari pada pemenuhan gizi di pondok pesantren non pesisir.
Beberapa tahun yang lalu juga terjadi kejadian luar biasa yaitu menyebarnya virus flu babi H1N1 di pondok pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya dan pondok pesantren Tebu Ireng Jombang pada tahun 2009 dan menjadi Kasus Luar Biasa yang ditangani langsungg oleh pemerintah. Faktor yang menentukan rendahnya kualitas perilaku kesehatan santri adalah peraturan pondok, fasilitas pondok, dan teman dekat di pondok (Rofiq dalam Rofiq, 2008).
Perilaku kesehatan merupakan respon seseorang terhadap stimulus berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan minuman serta lingkungan (Notoatmodjo, 2007), Perilaku kesehatan terbagi menjadi tiga pola utama, perilaku hidup sehat, perilaku sakit dan perilaku peran sakit contohnya olah raga teratur, makan menu seimbang, istirahat cukup, pengendalian stress, usaha serta cara merespon terhadap sakit, dan penyakit, presepsi terhadap sakit, pengetahuan penyebab gejala penyakit dan lain lain. (Becker dalam Notoatmodjo, 2007)
Dalam jurnal ini mendeskripsikan tentang perilaku kesehatan di pondok pesantren Assalafi Al Fithrah di kota Surabaya. Mulai dari perilaku sehat, perilaku sakit dan perilaku peran sakit, yang memiliki penjabaran mulai dari aktivitas olahraga, makanan dan minuman, istirahat dan pemanfaatan waktu luang, pengelolaan stress,  gaya hidup sehat, respon terhadap sakit, respon terhadap penyakit, respon terhadap penyakit, hak orang sakit, kewajiban orang sakit. Dari nilai kesederhanaan dan nilai-nilai yang lain pesantren sebagai sub-kultur tersendiri dari masyarakat pada umumnya  termasuk juga tentang perilaku kesehatan.
Dan juga mendeskripsikan tentang rasionalisasi tindakan sosial santri terhadap perilaku hidup bersih dan sehat mengambil dari teori tindakan sosial Max Weber. Weber mendefinisikan tindakan sosial sebagai semua perilaku manusia ketika dan sejauh individu memberikan suatu makna subyektif terhadap perilaku tersebut. Dalam teori tindakannya, tindakan bermaknsa sosial sejauh, berdasarkan makna subyektifnya yang diberikan oleh individu atau individu-individu, tindakan itu mempertimbangkan perilaku orang lain dan karenanya diorentasikan dalam penampilannya.  Perilaku hidup bersih dan sehat, terkait dengan perilaku subjektivitas individu di sini, dengan teori tindakan sosial Max Weber melihat dan mendeksripsikan perilaku hidup bersih dan sehat.

PERILAKU PEMELIHARAAN KESEHATAN , PERILAKU PENCARIAN,  PENGGUNAAN SISTEM ATAU FASILITAS KESEHATAN DAN PERILAKU KESEHATAN LINGKUNGAN SERTA TINDAKAN SOSIAL

Pengetahuan tentang perilaku sehat dalam santri di pondok pesantren yang perlu diupayakan adalah keempat dimensi di atas. perawatan dan menjaga kesehatan, pendidikan kesehatan, pertolongan dan tindakan ketika terkena penyakit, serta upaya peningkatan kesehatan lingkungan baik secara individu dan sosial. Batasan-batasan perilaku kesehatan dalam studi ini menggunakan rumusan yang digunakan (Notoatmodjo : 2003) mengambil dari teori perilaku Skiner, perilaku pemeliharaan kesehatan , perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan dan perilaku kesehatan lingkungan.
Pada pembahasan ini juga  menggunakan teori tindakan sosial, Max Weber membagi menjadi 4 kelompok, yaitu. Tindakan rasional instrumental (Zweck Rational), Tindakan Rasional Nilai (Wert Rational), tindakan afektual dan tindakan tradisional. Di sini teori tindakan sosial Max Weber, memandang perilaku kesehatan dari sudut pandang sosiologis. Bagi Weber, sosiologi adalah suatu ilmu yang berusaha memahami tindakan-tindakan sosial dengan menguraikannya dengan menerangkan sebab-sebab tindakan tersebut. Inti dari sosiologi Weber bukanlah bentuk-bentuk substansial dari kehidupan masyarakat maupun nilai yang obyektif dari tindakan, melainkan semata-mata arti arti yang nyata dari tindakan perseorangan yang timbul dari alasan-alasan subyektif. Adanya kemungkinan untuk memahami tindakan orang seorang inilah yang membedakan sosiologi dari ilmu pengetahuan alam, yang menerangkan peristiwa-peristiwa tetapi tidak pernah dapat memahami perbuatan obyek-obyek. Pokok penyelidikan Weber adalah tindakan orang seorang dan alasan-alasannya yang bersifat subyektif dan itulah yang disebutnya dengan Verstehende Sociologie (Siahaan, 1986).
Perilaku Pemeliharaan Kesehatan 
Health maintenance atau yang dikenal sebagai perilaku pemeliharaan kesehatan santri di PAF Surabaya. dari hasil penelitian diketahui cara santri dalam menjaga kesehatan dan mempertahankan diri penyakit dengan cara yang sederhana dan tidak seperti masyarakat di luar pondok pesantren. Santri dalam mempertahankan kesehatannya yaitu dengan beristirahat dan memanfaatkan waktu yang untuk digunakan melanjutkan aktivitas di pondok pesantren yang sangat padat.
Kegiatan di pondok pesantren dimulai dari sebelum terbitnya fajar hingga tenggah  malam, sehingga santri dituntut untuk mengatur waktu sebaik-baiknya. Ketika keadaan normal seseorang yang hidup di luar area pondok pesantren, jika mempertahankan kesehatannya yaitu dengan mengkonsumsi sumplemen manakan, makan makanan yang bergizi empat sehat lima sempurna ditambah dengan gerak yakni olah raga. Santri di PAF tidak bisa begitu, makanan yang disediakan pondok adalah makanan yang sederhana dengan tahu dan tempe, sayuran dan santri tidak bisa memilih menu makanan setiap harinya. Akan tetapi santri dibebaskan untuk membeli makanan di kantin, di koperasi dan di warung sekitar pondok, namun juga pengetahuan santri tantang pengetahuan makanan yang bergizi dan cara menjaga perilaku hidup sehat itu masih kurang
Perilaku Pencarian dan Penggunaan Sistem atau Fasilitas Kesehatan
Seeking Health Behavior atau yang dikenal sebagai perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, disebut juga perilaku mencari pengobatan. Di PAF sendiri santri ketika merasa sakit dan terkena penyakit berusaha mengobati dirinya sendiri,  jika dirasa penyakitnya itu ringan mungkin karena kelelahan atau kondisi tubuh menurun karena kurang istirahat santri melakukan pengobatan hanya dengan tidur di kamar. Adapula yang ketika merasa sakit santri tersebut membeli obat sendiri atau meminta tolong temannya untuk membeli di koperasi pondok atau apotik. Ada pula ketika merasakan sakit santri mencari pengobatan melalui sistem yang ada di PAF, jika dirasa sakitnya itu ringan santri hanya dibawa ke ruang isolasi untuk beristirahat, jika tidak ada masih sakit santri dibawa ke poskestren PAS untuk pemeriksaan dan pengobatan yang dilakukan oleh dokter yang sedang bertugas.
Tingkat pengetahuan santri tentang pelayanan kesehatan di PAF juga bepengaruh terdapat perilaku santri dalam mencari pengobatan, ada santri yang ketika merasa sakit tidak ke poskestren, akan tetapi menghubungi orang tuanya untuk izin pulang dan beristirahat di rumah atau mendapatkan pengobatan di luar. Ada pula yang merasa kecewe dengan sistem pelayanan kesehatan di PAF sehingga santri tersebut mencari pengoatan di luar PAF, seperti di puskesmas, klinik spesialis dan rumah sakit di sekitar Kota Surabaya.
Perilaku Kesehatan lingkungan
Perilaku kesehatan lingkungan ini dipengaruhi oleh hubungan sosio-kultural individu dengan lingkungannya,  seperti yang dikemukanan oleh  Sadli (dalam Soekidjo, 2003) hubungan individu dengan lingkungan sosial saling mempengaruhi
Perilaku kesehatan individu, sikap dan kebiasaan individu erat denga lingkungan, karena sejak lahir individu dalam penelitian ini adalah santri tidak lepas dari kelompok terutama keluarga.
Lingkungan keluarga, kebiasaan tiap-tiap anggota keluarga mengenai kesehatan mempengaruhi individu dalam berperilaku. Lingkungan keluarga ini akan juga membuka kemungkinan untuk memengaruhi kelompok-kelompok yang lain
Kelompok terbatas, tradisi dan adat-istiadat dan kepercayaan masyarakat sehubungan dengan kesehatan. Suatu kelompok, mempunyai suatu aturan-aturan atau norma-norma sosial tertentu, maka perilaku  individu sebagai anggota kelompok berlangsungg dalam suatu jaringan yang normatif.
Lingkungan umum, merupakan kebijakan pemerintah di bidang kesehatan, undang-undang kesehatan, program-program  kesehatan dan sebagainya.
Perilaku kesehatan lingkungan ini dipengaruhi dari linkungan yang di sekitar individu, yang pertama kali mempengaruhi adalah lingkungan keluarga, lingkungan ini yang memperngaruhi individu sejak lahir dan kelombok lingkungan keluarga membuka kemungkinan untuk menerima pengaruh dari kelompok lingkungan yang lain dan mempengaruhi anggota kelompok yang lain. Setiap kelompok mempunyai nilai, aturan dan norma sosil tertentu, maka perilaku setiap individu anggota kelompok berlangsungg dalam suatu jaringan yang normatif. Begitu pula dengan perilaku individu (santri) tersebut terhadap masalah-masalah kesehatan
Perilaku hidup sehat
Makan Menu Seimbang
Di PAF seperti yang dijelaskan pada pembahasan health maintenance, dalam pemenuhan gizi santri dirasa masih kurang jika melihat standart makan menu seimbang menurut Soekidjo (2003).
Sudarman, (2009) menjelaskan tentang makanan dan identitas budaya terdapat lima klasifikasi. Pertama, kebutuhan fisiologis komsumsi makanan bertujuan untuk menjaga keseimbangan dan pekembangan disiologis seseorang, menjaga keseimbangan gizi empat sehat lima sempurna merupakan usaha untuk mendukung tujuan makanan dari sisi fisiologis
Perilaku Merokok
Perilaku merokok ini sangat disayangkan jika terjadi di pondok pesantren karena ustad atau santri senior secara tidak langsung memberikan contoh kepada santri yang lebih junior untuk berkeinginan merokok. Ada yang memang sebelum mondok santri itu merokok dan banyak juga yang setelah mondok terpengaruh lingkungan untuk merokok.
Tidak Mengkonsumsi Minuman Keras
Dari hasil penelitian baik santri putra serta santri putri, di PAF tidak ada santri yang ketahuan mengkonsumsi minuman keras. Menurut ANS memang tujuan masuk ke pondok pesantren adalah untuk membentengi diri pengaruh negatif pergaulan di masyarakat umum baik pengaruh rokok, minuman keras, narkoba dan pergaulan bebas.
Istirahat Cukup
Istirahat cukup, dengan menigkatnya kebutuhan hidup akibat tuntutan untuk sesuai dengan lingkungan modern, mengharuskan orang untuk bekerja keras dan berlebihan. Hal ini dapat juga membahayakan kesehatan
Gaya Hidup Positif
Perilaku positif atau gaya hidup lainnya misalnya penyesuaian diri dengan lingkungan, kebersihan dan kesehatan lingkungan dan kesehatan diri serta perilaku lainnya.
Kebersihan lingkungan, di PAF Surabaya, dilakukan oleh pengurus pondok pesantren yang telah di tunjuk dan pengurus tersebut yan menentukan dan merekrut santri untuk bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan seluruh area pesantren, termasuk juga kebersihan dari fasilitas mulai dari kamar mandi, masjid, poskestren, lapangan, ruang kelas, pendopo dan lain-lain
Perilaku sakit (Illness Behaviour)
Pembahasan tentang perilaku sakit ini menggunakan model Mechanics,  model mechanic ini bertujuan untuk melakukan pendekatan sosial untuk mempelajari perilaku sakit yang terdiri dari 10 variable yang digunakan untuk membahas perilaku sakit santri di PAF Surabaya
1.      Penyakit dapat dilihat, dirasakan, dapat dikenali, dirasakan dan tanda-tanda yang menyimpang. Penyakit yang menyerang santri dengan tanda-tanda sebagai berikut pucat, santri lemas, tempratur tubuh santri panas, terdapat luka luar, mengekuarkan ingus, batuk, bercak atau benjol pada penyakit kulit, dan bisa hingga mengeluarkan lendir
2.      Banyaknya gejala-gejala yang dianggap serius (perakiraan kemungkinan bahayanya). Jika ciri-ciri dari tanda fisik masih berlanjut maka atau banyak dan parah maka resiko yang ditimbulkan lebih besar. Santri MRH pernah mengakami gatal hingga setengah tubuh terdapat benjolan dan terasa gatal, segera MRH mencari pengobatan.
3.      Banyaknya gejala menyebabnya putusnya hubungan keluarga, pekerjaan dan aktivitas sosial lainnya. Dengan mengalami sakit tersebut sehingga parah sehingga tidak dapat mengerjakan rutinitas di pesantren, santri juga ketika sakit parah tidur diruang isolasi dan mendapat pengobatan dari poskestren
4.      Frekuensi dari gejala-gejala yang tampak, presistensinya dan frekuensi yang timbul. Penyakit yang dirasa ringan akan tetapi intensitasnya sering perlu diperiksakan lebih lanjut kemungkinan penyakit itu semakin parah. Menurut dr. E penyakit yang di alami santri adalah penyakit yang ringan , disebabkan karena PHBS santri yang kurang.
5.      Nilai ambang dari santri yang terkena, batas toleransi atau orang menilai tanda-tanda itu menyimpang. Santri memandang bahwa seorang yang sakit itu santri tidur lama, tidak mengikuti aktivitas pondok itu sudah dikatakan sakit. dan sudah mendapatkan perhatian dari santri yang lain apalagi hingga gejala yang diperlihatkan lebih berat maka santri tersebut akan dicarikan pengobatan. Ketika penelitian ini berlangsung, dalam suatu kesempatan didapati santri melakukan aksi solidaritas dengan meminta sumbangan kepada santri lain  di setiap kamar dan meminta sumbangan kepada ustad untuk menyumbang temannya yang sedang dirawat karena penyakit kanker darah.
6.      Informasi, pegetahuan dan asumsi budaya dan pengertian-pengertian dari yang menilai, sangat sedikit sekali santri yang mengerti tentang perilaku hidup bersih dan sehat, dikarenakan juga sumber informasi yang masuk kedalam pesantren terbatas, dibutuhkan buku bacaan dan sosialisasi tentang perilaku kesehatan dan kebersihan di PAF terutama pada santri putra. Pada santri putri sudah ada santri Husada, yang berfungsi sebagai agen sosialisasi kepada santri lainnya tentang PHBS dan pemeriksaan awal atau deteksi penyakit untuk mencari pengobatan selanjutnya
7.      Kebutuhan dasar yang menyebabkan perilaku, ketika sakit santri, mengambil keputusan berobat atau malah mengabaikan pengobatan ketika sakit,  karena adanya kebutuhan dasar lain seperti santri tidak ingin terlewatkan ritual yang ada di pesantren, sehingga ketika sakit santri mengabaikan untuk berobat demi menjalankan kegiatan tersebut.
8.      Adanya kebutuhan lain yang lebih utama dipenuhi dibandingkan dengan mengabaikan terlebih dahulu gangguan penyakitnya, bagi sebagian orang gejala penyakit lebih utama untuk mencari pengobatan, akan tetapi sebagian orang termasuk santri memilih untuk mengabaikan atau menunda mencari pengobatan seperti santri PAF dari data yang ditemukan, santri MRH pernah menunda untuk mencari pengakuan bahwa santri sakit
9.      Perbedaan interpretasi yang mungkin terhadap gejala yang dikenalnya, seseorang yang merasakan sakit akan tetapi sakit tersebut tidak dihiraukan karena sudah menjadi bagian dari pekerjaan atau kegiatan tersebut. sesuai dari data yang ada santri di PAF sudah mengangap penyakit gatal-gatal itu merupakan bagian dari pesantren, ibaratnya jika tidak pernah sakit gatal-gatal tidak (afdol:Arab) dalam menempuh pendidikan di pondoknya. Santri menyikapi penyakit gatal-gatal itu sudah lumrah bahkan seolah-olah sudah menjadi budaya jika seorang santri harus pernah terkena penyakit gatal-gatal.
10.  Tersedianya  sumber daya, kedekatan fisik, biaya dan sebagainya, di PAF sudah tersedia fasilitas koperasi yang menjual obat-obat rumahan dan Poskestren untuk pemeriksaan dan pengobatan santri, ketika santi memeriksakan dirinya dan mendapatkan obat cukup membayar dengan biaya Rp 3000,00, nominal yang murah untuk pemeriksaan dan pengobatan, karena sebagian pembiayaan pengobatan telah di subsidi dari pondok. Jika santri tidak puas bisa meminta izin ke pondok untuk berobat keluar pesantren jika dirasa penyakitnya itu parah.

Perilaku peran sakit (Sick Role Behaviour)
Peranan orang sakit
Peranan orang sakit terdiri dari dua hal, yakni hak orang sakit dan kewajiban sebagai orang sakit atau pasien. Orang yang berpenyakit belum tentu mengakibatkan perubahan peranan seseorang dalam masyarakat. Berbeda dengan orang yang sakit menyebabkan perubahan peran di dalam masyasakat maupun lingkungannya. Berkaitan dengan peranan, tidak akan lepas dari yang namanya hak dan kewajiban. Demikian juga peranan orang sakit akan menyangkut masalah hak dan kewajiban orang sakit tersebut sebagai anggota masyarakat.
Hak orang sakit
Hak orang sakit yang pertama adalah bebas dari tanggung jawab sosial yang normal. Artinya orang yang sakit tidak mempunyai hak untuk mengerjakan pekerjaan sehari-hari yang biasa santri lakukan. Hal ini boleh di tuntut tapi tidak mutlak. Seperti halnya ketika santri PAF sakit pada santri putra akan beristirahat di kamar, dan ketika kepala kamar atau koordinator bagian kesehatan melihat santri tersebut sedang terbaring lemas dan pucat maka di biarkan untuk beristirahat dan tidak melakukan kegiatan sehari-hari di pondok pesantren seperti sekolah, mengaji, musyawarah dan lain sebagainya.
Santri putri ketika sakit waktu datang bulan itu merupakan saat istirahat yang dilakukan oleh wantri putri, karena pada waktu haid seorang islam perempuan terbebas dari kewajiban sholat, dan haram hukumnya untuk melakukan sholat, memegang dan membaca Al Qur’an, memasuki masjid dan lain sebagainya. di dalam islam pun memberikan keringanan untuk perempuan yang sedang haid agar tidak melakukan ibadah.
Kewajiban orang sakit
Orang yang sakit berkewajiban sembuh dari penyakitnya, memperolhe kesembuhan bukan hannya hak tapi juga kewajiban bagi orang yang sakit. Mencari pengobatan baik dilakukan sendiri maupun dengan bantuan orang lain untuk
Kewajiban berikutnya adalah orang sakit mencari pengakuan, nasihat dan kerja sama dengan para ahli kesehatan yang ada di dalam masyarakat. Mencari pengakuan ini penting agar peranan seorang yang sakit dapat digantikan dengan orang lain. Pengakuan itu bisa dalam bentuk pengakuan secara formal maupun informal, seperti mendapatkan surat izin untuk tidak masuk kerja atau surat keterangan sakit.
Model Perilaku Tentang Keyakinan Sehat
Terdapat berbagai model perilaku tentang pilihan berobat berhubungan dengan keyakinan kesehatan (Health Belive Model) yang dimiliki oleh masyarakat yang dikembangkan dari  Rosenstock (dalam Sudarmann, 2009) menjelaskan pengambilan keputusan seorang tentang pengobatan dirumuskan menjadi :
1.    Keyakinan kerentanan terhadap penyakit
2.    Keyakinan tentang keseriusan atau keganasan penyakit
3.    Keyakinan tentang efektifitas tindakan ini sehubungan dengan adanya kemungkinan tindakan alternatif
4.    Keyakinan tentang kemungkinan biaya
Tindakan Rasional Max Weber
Ada 4 teori tindakan rasional dalam masyarakat yang diinterpretasikan pada perilaku kesehatan santri sebagai berikut :
Pertama, Tindakan rasional instrumental yaitu tindakan murni aktor dalam hal ini seorang santri tidak hanya menilai cara yang baik akan tetapi juga menentukan nilai dan tujuan. Alat sebagai pencapaian tujuan-tujuan yang dikejar dan dihitung secara rasional ketika mencari pelayanan kesehatan atau pengobatan.  Tindakan santri tersebut antara lain membeli obat di toko atau di koperasi yang diharapkan itu memberikan kesembuhan pada penyakitnya, atau pun pergi ke poskestren atau juga mencari pelayanan medis lain untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih profesional.
Seperti yang diungkapkan oleh Max Weber yang mengatakan bahwa perilaku manusia yang merupakan perilaku sosial harus mempunyai tujuan tertentu, yang terwujud dengan jelas. Artinya, perilaku itu harus mempunyai arti bagi pihak-pihak yang terlibat, yang kemudian berorientasi terhadap perilaku yang sama dengan pihak lain. Dengan kata lain, suatu perilaku mungkin mempunyai arti tertentu pada perilaku tersebut.
Demikian pula yang diungkapkan oleh Max Weber yang memahami alasan-alasan mengapa warga masyarakat tersebut bertindak, kejadian historis (masa lalu) yang memengaruhi karakter santri, dan memahami tindakan para pelakunya yang hidup di masa kini.
Kedua Tindakan Rasionalitas nilai ditentukan oleh  kepercayaan yang sadar akan nilai itu sendiri suatu bentuk perilaku etis, estetis dan keagamaan atau bentuk lainnya, terlepas dari prospek prospek keberhasilan.
Tindakan rasional nilai ini sangat erat sekali dengan kehidupan pesantren karena pesantren sebagai institusi agama memiliki tata nilai keagamaan yan harus diataati santri atau pun warga pesantren dalam bertindak, yang pada pembahasan sebelumnya di telah disebutkan tata nilai di pesantren berdasarkan “kebaikan” dan “kekualatan”. Tindakan ini tidak memikirkan prospek-prospek keberhasilan seperti halnya tindakan rasional instrumental, justru lebih pada nilai yang di anut santri di pesantren.
Perilaku rasional nilai ini juga merupakan pengahambat santri untuk melakukan PHBS, karena kembali pada tata nilai yang berkembang di pesantren santri secara tidak sadar sudah ada konstrusi di pikiran santri tentang tata nilai yang berkambang untuk mencapai fadhoilul amal keutamaan dalam beramal dalam menjalankan kebaikan ini berpijak pada menjalankan hukum-hukum Allah SWT dan sunnah rasulullah SAW, jika dikaji lebih dalam lagi terdapat alternatif lain dalam santri ber-PHBS yaitu jika dimungkinkan ada kajian khusus tentang PHBS dilihat dari dalil Al Qur’an dan Al Hadist ataupun dari ulama-ulama atau wali-wali Allah.
Ketiga, klasifikasi Weber dalam tindakan sosial adalah tindakan afektual, di mana tindakan afektual ini ditentukan oleh keadaan emosional aktor. Dari pembahasan sebelumnya terdapat tindakan afektual yang dilakukan santri dalam perilaku kesehatan yaitu pada saat santri mengalami stress dikarenakan oleh masalah yang bagitu banyaknya, ataupun tekanan perasaan yang di rasakan santri HW yang kudua orang tuanya sudah meninggal, dan jika santri merasa tidak krasan tinggal di pesantren, santri akan menyendiri menjauh dari teman-temannya dan menangis, luapan perasaan ini tidak dapat dibendung sehingga dengan menangis dapat mengurangi tekanan yang terjadi, selain dengan tangisan luapan bentuk penyesalan, merenung berdiam diri dan instropeksi diri akan kesalahan yang dilakukan santri dalam mengatasi stress. Di PAF pada hari-hari tertentu terdapat ritual berdzikir bersama pada malam hari dengan mematikan semua lampu majlis dzikir fida’, di mana jamaah dan santri berdzikir membaca kalimat tauhid,  Laa Ila Ha illallah hingga mencapai katarsis, upaya mendekatkan diri kepada tuhan YME,  sampai menangis terisak-isak seraca tidak langsungg juga turut menghilangkian beban mental, dan kepenatan dalam kehidupan seseoang.
Keempat, tindakan tradisional merupakan tindakan yang dilakukan cara-cara berperilaku sang aktor yang biasa dan lazim, kebiasaan yang ada dalam satu institusi dan telah dilakukan lama dan telah mapan sebagai kerangka acuan dan diterima begitu saja tanpa persoalan. Di pesantren Al Fithrah tindakan tradisional yang berhubungan dengan perilaku kesehatan yaitu bersih diri dengan cara mandi, menyuci pakian, memotong kuku setiap hari jumat yang sudah terbiasa santri lakukan. Pada pembahasan sebelumnya diketahui bahwa ust.S menyebutkan bahwa PAF merupakan pondok pesantren bergaya hidup salaf sejak yang diturunkan dari generasi-kegenerasi tanpa merubah gaya hidup tersebut mulai dari berpakian di PAF santri putra wajib berjubah putih ketika melakukan aktifiktas pondok, bagi santri putri ada seragam khususs ketika melakukan kegiatan pesantren dan tidak boleh menggenakan pakian ketat dan bercalana. Dari segi makanan setiap hari santri diberikan menu makanan tahu dan tempe, sebagai lambang tirakat kesederhanaan dalam mencari keutaman amal perbuatan. Senada dengan itu pesantren juga merupakan subkultur yang dikemukakan oleh Wakhid (1978), ada dua karakteristik pesantren sebagai sub-kultur 1. Pesantren tersebut memiliki tata nilai ini secara turun-temurun dari generasi kegenerasi dan menjaganya, sistem tersebut melalui sistem riwayat (isnad) ada standart tersendiri yang mempunyai validitas apakah riwayat itu asli dan bersambung kepenguasa pembentuk pesantren yaitu para wali songo.
2. asketisme yang digunakan pesantren mengalami krisis di masyarakat sekitarnya dan akhirnya membentuk unit kultur tersendiri. Dimasyarakat di luar pesantren terus berkembang menjadi masyarakat yang modern akan tetapi di dalam pesantren khusussnya di PAF tetap menjaga kemurnian isnad yang diwariskan oleh para pendahulu. Hal semacam ini hanya terjadi pada pesantren yang memilih gaya hidup tradisional, pakem yang semacam ini tidak boleh dihilangkan, PAF juga menerima perubahan dan memasukkan sistem modern pada pendidikan dan fasilitas akan tetapi tidak meninggalkan kultur yang telah ada secara turun-temurun.
KESIMPULAN
Berdasarkan berbagai penjelasan yang telah disampaikan sebelumnya, penelitian ini mendapatkan beberapa temuan yang menjelaskan mengenai perilaku kesehatan santri di pondok pesantren sebagai berikut :
Pertama, dalam menjaga dan memelihara kesehatan, santri mempertahankan diri dari penyakit dengan cara yang sederhana, dengan hanya beristirahat ketika mulai merasakan kondisi tubuhnya menurun, dan mencari pengobatan hanya di sekitar pondok pesantren dan masih sangat jarang mencari pengobatan pada tenaga medis yang lebih profesional
Di sisi lain santri di tuntut untuk mencapai ketaatan beribadat ritual secara ketat, selain itu santri di tuntut untuk menerima kondisi material yang relatif bersifat kekurangan, serta memiliki kesadaran kelompok tinggi. Tidak seperti masyarakat di luar pondok pesantren. Santri dalam mempertahankan kesehatannya yaitu dengan beristirahat dan memanfaatkan waktu yang untuk digunakan melanjutkan aktivitas di pondok pesantren yang sangat padat. Pemeliharaan kesehatan ini bergantung pada perilaku sehari-hari santri, apakah santri tersebut dapat mengatur waktu dengan tertib. Praktek kehidupan pesantren salah satunya mencerminkan sikap pengekangan, yaitu memiliki perwujudan disiplin sosial yang ketat.           
Kedua, usaha pencarian dan penggunaan fasilitas kesehatan, Di PAF sendiri santri ketika merasa sakit dan terkena penyakit berusaha mengobati dirinya sendiri,  jika dirasa penyakitnya itu ringan mungkin karena kelelahan atau kondisi tubuh menurun karena kurang istirahat santri melakukan pengobatan hanya dengan tidur di kamar. Adapula yang ketika merasa sakit santri tersebut membeli obat sendiri atau meminta tolong temannya untuk membeli di koperasi pondok atau apotik. Tingkat pengetahuan santri di pesantren terhadap perilaku mencari pengobatan ini dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lama santri tinggal di pondok pesantren dan juga dipengaruhi oleh pengetahuan santri sebelum tinggal di pondok, karena terbatasnya informasi khusussnya informasi perilaku kesehatan yang masuk di pondok pesantren
Ketiga, dalam kesehatan lingkungan santri sebagai individu dalam berperilaku kesehatan di pengaruhi erat oleh lingkungan sosialnya baik lingkungan keluarga, lingkungan kelompok-kelompok yang memiliki norma dan adat istiadat. Juga dipengaruhi oleh program-program atau lembaga pemerintahan. Perilaku hidup sehat santri seperti makan, minum, olah raga, perilaku merokok, pemanfaatan istirahat dan pengelolaan stress dan gaya hidup bersih didasarkan kepada “kebaikan” atau “kekualatan”.
Keempat, rasionalisasi perilaku kesehatan bergantung pada pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki santri. pengetahuan berhubungan erat dengan adopsi perilaku di mana santri terlebih dahulu harus membangun kesadaran akan pentingnya perilaku hidup sehat dan bersih di pesantren, karena kesadaran atau niatan yang memicu santri untuk mengadopsi perilaku hidup sehat dan bersih. Ketertarikan santri terhadap perilaku hidup sehat ini juga mempengaruhi, kebanyakan santri kurang merespon sosialisasi yang pernah diberikan oleh layanan kesehatan untuk berperilaku hidup sehat karena santri tidak merasa tertarik. Perlu adanya pelatihan dan pembentukan kader-kader kesehatan yang bertujuan untuk mensosialisasikan perilaku hidup bersih dan sehat melalui peer group discussion kelompok-kelompok diskusi santri dalam pergaulan sehari-hari yangg membicarakan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Di samping itu pengurus dan ustad berperan sebagai aktor sekaligus agen pengembangan diri dari perilaku hidup bersih dan sehat guna mendukung, mengawasi dan menjadi contoh santri dalam berperilaku.
Tindakan rasional intrumental santri menyikapi dalam PHBS di pesantren masih kurang, dikarenakan karena tindakan rasional nilai melekat kuat di dalam pesantren yang tidak terlepas hari nilai dan etika agama, akan tetapi tindakan rasional nilai agama ini dapat dimanfaatkan untuk mensosialisasikan PHBS dengan berdasarkan nilai-nilai di dalam agama. Tindakan afektual santri diluapkan dengan tangisan, menyendiri, dan merenung tindakan tersebut disebabkan karena tekanan mental yang dirasakan santri di pesantren. Tindakan tradisional di pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, sangat terlihat dari gaya hidup yang diterapkan dan sudah menjadi bagian dari pesantren  karena gaya hidup merupakan bagian dari kultur pesantren salaf yang diwariskan secara turun-termurun dan memiliki validitas bersambung ke para pendahulu pengagas pesantren yaitu wali songo.


Daftar Pustaka
Al-Zarnuji, Syekh. 1996. Etika Belajar Bagi Penuntut Ilmu. Terj. A. Ma’ruf Asrori. Surabaya: Pelita Dunia
Dhofier, Zamakhsyari. 1982. Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES
Makdisi, George A. 2005. Cita Humanisme Islam: Panorama Kebangkitan Intelektual dan Budaya Islam dan Pengaruhnya Terhadap Renesains Barat. Jakarta : Serambi
Muzaham, Fauzi. 1995. Memperkenalkan Sosiologi Kesehatan. Jakarta : UI PRESS
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipto
Rahardjo, M.Dawam. 1985. Pergulatan Dunia Pesantren : Membangun Dari Bawah. Jakarta : P3M
Ritzer, George. 1980. Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda. Jakarta : CV. Rajawali
.Ritzer, George, dan Douglas, Goodman. 2013. Teori Sosiologi Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Siahaan, Hotman M. 1986.  Pengantar Ke Arah Sejarah Dan Teori Sosiologi.Jakarta : Erlangga
Sudarman, Sudarmann. 2009. Sosiologi Untuk Kesehatan. Jakarta : Penerbit Salemba Medika
Sumait, Habib Zain bin Ibrohim bin Zain. 2004. Attaqriitus Sadiidah fil Masa’ilil Mafiidah. Surabaya : At Toba’ah Wan Nasyar Wat Tauziik
Ulumuddin, M. Ihya. 2004 . Risalah Wudhu, Tuntunan Memperbaiki Wudhu.Surabaya: Vde Press
Waitzkin, B Howard., Waterman, Barbara. 1993, Sosiologi Kesehatan : Mengeksplorasi Penyakit Mencari Keuntungan. Jakarta : Prima Aksara
Wakhid, Abdurrahman. 1978. Bunga Rampai Pesantren. Jakarta : CV Dharma Bhakti